|
Evaluasi
Serangan Virus 2006
26 Desember 2006
Virus Lokal
Menjadi Tuan di Rumah Sendiri
Apa yang dicari oleh pembuat virus lokal ? Harta, popularitas
atau kepuasan diri mampu menciptakan virus yang lebih baik dari
orang lain ? Kalau harta jelas tidak karena membuat virus adalah
tindakan melanggar hukum dan pembuat virus yang berani menunjukkan
batang hidungnya pasti akan berurusan dengan pihak yang berwenang.
Popularitas, ego dan kepuasan diri mungkin menjadi alasan utama
pembuat virus melakukan usaha berhari-hari memutar otak menuliskan
berbagai kode pemrograman yang mampu menyebarkan dirinya secara
otomatis, tidak lupa memikirkan rekayasa sosial apa yang diselipkan
pada program virus ciptaannya tersebut agar penerima virus tidak
curiga atau bahkan secara sukarela dan menjalankan file virus
tersebut.
Meskipun membuat virus bukan hal yang patut dibanggakan,
tetapi secara de facto pada tahun 2006 virus lokal Indonesia
berhasil mengambil alih tongkat kepemimpinan dari virus mancanegara
sebagai virus yang paling banyak menyebar di Indonesia. Malahan
karena adanya kontribusi dari infeksi virus lokal menyebabkan total
infeksi virus di Indonesia mengalahkan infeksi Spyware, padahal
kecenderungan akhir tahun 2005 menunjukkan gejala bahwa penyebaran
Spyware akan mengalahkan virus, ternyata hal ini tidak terjadi di
Indonesia. Fakta ini cukup mengejutkan dan secara tidak langsung
menunjukkan kemampuan programmer Indonesia yang baik kuantitas
maupun kualitasnya tidak kalah dengan programmer luar negeri. Untuk
kuantitas sudah tidak diragukan lagi karena jumlah penduduk
Indonesia yang menduduki peringkat nomor 4 di dunia. Jadi 10 % saja
dari penduduk Indonesia (238 juta) melek internet sudah 4 kali lipat
dari seluruh jumlah penduduk Singapura (4,3 juta). Jika membicarakan
kualitas, bukti bahwa virus lokal lebih mampu menyebarkan dirinya
lebih dari baik virus mancanegara menunjukkan bahwa programmer
Indonesia tahu bagaimana menciptakan virus yang tetap dapat menyebar
dengan cepat memanfaatkan kondisi infrastruktur jaringan internet di
Indonesia yang lemot, ditambah lagi rekayasa sosial terhadap file
bervirus yang pada awalnya hanya memalsukan Icon MS Word atau Icon
Folder dan tidak merubah “Type” file sehingga pengguna komputer yang
cermat akan mampu mengidentifikasi bahwa file / folder palsu
tersebut adalah virus yang menyaru dengan Icon MS Word atau Folder.
Tetapi perkembangan terakhir selain Icon file dipalsukan, virus juga
mengganti “Type” file .exe (executable) menjadi File Folder sehingga
pengguna komputer yang paling berhati-hati sekalipun akan terjebak
untuk menjalankan file tersebut.
Rahasianya ? USB
Flash Disk (UFD)
Seperti kita ketahui, harga bandwidth di Indonesia termasuk
yang paling mahal di dunia dan salah satu penyebabnya adalah kurang
baiknya infrastruktur di Indonesia. Padahal koneksi internet pada
jaman sekarang sudah merupakan keharusan ibarat manusia membutuhkan
listrik. Dan harus jujur kita akui juga bahwa pendapatan per kapita
Indonesia masih rendah dan penetrasi internet relatif masih rendah
dibandingkan negara tetangga kita di Asean. Menurut informasi
terakhir dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)
total pengguna internet di Indonesia dalah 20 juta orang, sedangkan
pelanggan internetnya sendiri hanya 6 juta orang. Lalu
pertanyaannya, dimana ke 14 juta orang yang tidak berlangganan
internet mengakses internet ? Jawabannya mudah, akses internet di
kantor, dirumah teman / tetangga dan satu lagi yang cukup menjamur
karena murah meriah adalah akses internet dari Warnet (Warung
Internet). Lalu dimana pengakses internet yang tidak berlangganan
ini menyimpan datanya ? 5 tahun yang lalu jawabannya adalah disket,
tetapi sekarang ada satu media murah meriah yang mengalahkan
penyebaran disket dan dimiliki hampir setiap pengakses internet, UFD
(USB Flash Disk).
Rupanya pembuat virus lokal cukup jeli melihat kondisi
Indonesia, jika menyebarkan virus melalui email seperti yang banyak
dilakukan oleh virus-virus impor, selain usahanya cukup keras karena
harus membuat engine email (smtp) sendiri, dampak dan penyebarannya
tidak akan besar karena 14 juta pengakses internet Indonesia tidak
memiliki account internet dan hanya mengakses internet melalui
warnet. Jika mengakses email mayoritas menggunakan browser (Webbased
email) yang relatif lebih aman dari serangan virus email
dibandingkan download email ke mailclient seperti MS Outlook atau
Eudora. Tetapi mayoritas pengakses internet ini memiliki UFD untuk
menyimpan datanya, baik data skripsi maupun data lain, belum lagi
media lain seperti memory card yang akhir akhir ini penyebarannya
menjadi luarbiasa banyak karena populernya kamera digital dan
handphone yang rata-rata menggunakan memory card. Maka pembuat virus
lokal memfokuskan penyebarannya pada Flash Disk, terutama UFD yang
tinggal dicolokkan ke komputer akan memberikan ruang untuk menyimpan
data. Tetapi ibarat pengguna narkoba yang saling bertukar alat
suntik yang sama dan terinfeksi HIV melalui jarum suntik tersebut,
maka UFD yang di colokkan pada komputer yang terinfeksi virus akan
ikut terinfeksi virus dan kemudian menularkan virus tersebut pada
komputer lain ketika dicolokkan pada komputer lain. Sebenarnya virus
yang menyebar melalui UFD ini bukan berbentuk Worm yang dapat
menyebarkan dirinya sendiri tanpa bantuan pengguna komputer dan
hanya dapat menginfeksi jika dijalankan oleh pengguna komputer.
Tetapi disinilah kecerdasan pembuat virus lokal yang menentukan
keberhasilan penyebaran virus lokal menggunakan Rekayasa Sosial yang
tepat sehingga pengguna komputer terjebak / tidak sadar menjalankan
program virus tersebut. Biasanya virus ini memalsukan dirinya
sebagai dokumen MS Word dengan icon dan nama yang sama persis dengan
nama file yang ada pada UFD / harddisk (dimana file aslinya di hapus
atau disembunyikan), icon favorit lain yang dipalsukan oleh virus
selain MS Word adalah icon Folder, lebih canggihnya lagi biasanya
diikuti dengan perubahan pada registri komputer sehingga file Type
virus yang harusnya “Application” ikut berubah menjadi “Folder”.
Bagaimana cara
mengatasinya ?
Jika anda bertanya bagaimana cara mencegah komputer
terinfeksi virus, saran kami adalah gunakan program antivirus yang
memiliki kemampuan deteksi virus dengan baik. Ibarat membeli
properti, syarat utama adalah lokasi, lokasi dan lokasi. Cari
antivirus yang memiliki kemampuan deteksi virus yang baik,
memberikan layanan support dan tidak hanya sekedar menjual nama
besar atau tatap muka yang keren. Selain itu, ada satu langkah
pamungkas untuk melindungi data anda dari serangan virus … back up,
back up dan back up.
AA Tan
info@vaksin.com
PT. Vaksincom
Jl. Tanah Abang III
/ 19E
Jakarta 10160
Ph : +62 21 345 6850
Fx : +62 21 345 6851 |