Tongkol Disleksia

1 Februari 2017
Tongkol, disleksia dan HOAX
Meramu kebohongan demi simpati
Pada minggu terakhir Januari 2017, beredar dengan sangat viral video AR, anak sekolah yang salah sebut ikan tongkol ketika ditanya oleh Presiden Jokowi. Video tersebut memviral karena ketidak mampuan anak tersebut menyebutkan kata tongkol dan menyebutkan alat kelamin pria. Jika hal ini terjadi pada kita tentunya akan malu sekali dan meskipun bagi sebagian orang cukup lucu dan mengejutkan, namun menertawakan kekurangan seseorang apalagi membully anak tersebut merupakan tindakan yang kurang bijak dan bisa berdampak buruk bagi pengembangan anak. Karena itulah beberapa hari kemudian beredar informasi lain yang cukup ramai di broadcast dan sempat dikutip oleh beberapa media online (lihat gambar 1) yang pada dasarnya membela anak tersebut lengkap dengan klaim bahwa anak tersebut yatim piatu, menderita disleksia dengan membawa-bawa nama endorser Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang 
Gambar 1, Informasi bahwa AR mengidap disleksia langsung memviral

Hal menarik yang ingin Vaksincom bahas disini adalah teknik pembuatan Hoax yang terkandung dalam broadcast yang disebarkan oleh pembuat berita Hoax tersebut. Dari tujuannya dapat dikatakan bertujuan baik karena mengajarkan penerima broadcast / berita untuk tidak membully atau menertawakan ketidakmampuan seseorang. Tetapi cara yang digunakan kurang terpuji dan disinyalir memanipulasi data dan sarat rekayasa sosial sehingga informasi yang kurang akurat tersebut menyebar dengan sangat cepat. Adapun salah satu versi dari broadcast yang menyebar melalui group Whatsapp adalah sebagai berikut :

<<<awal broadcast Hoax>>>
Mentertawakan Kemalangan Saudara Sendiri

Bapak Ibu pernah melihat video ini ? video berdurasi singkat ikhwal anak SD yang menjawab pertanyaan Pak Presiden tentang nama-nama ikan. Viral banget yaa...
Video ini sukses membuat jutaan pemirsa di Indonesia ngakak guling-guling saat mendengar jawaban sang bocah yang lugas dan teramat polos. Jawaban itu tak lain adalah nama ikan yang seharusnya adalah ikan Tongkol , namun dilafalkan terbalik menjadi nama alat vital laki-laki dalam bahasa Sunda/Jawa. 
Dan sang pengunggah video inipun menuai jutaan klik yang artinya adalah mengalirnya sejumlah uang ke dalam pundi-pundinya.
Saya termasuk yang sempat tersenyum simpul saat mendapat share video ini, asli sama sekali tidak mengetahui latar balakang pembuatan video ini, dan siapa bocah polos berseragam putih merah yang sanggup memancing tawa dan senyum bahkan bapak Presiden RI.
Namun betapa menyesalnya saya, setelah saya mengetahui siapa adik cilik nan lucu ini. Ternyata ia adalah Akhsan, seorang anak penyandang difabel Dyslexia (penderita kesulitan berbicara/membaca/mengucapkan kata-kata yg mirip) yang baru satu minggu mengikuti terapi, dan Akhsan adalah seorang anak yatim piatu . 
Menurut Noviana Dibyantari, Koordinator Komunitas Difabel Semarang, Akhsan setiap hari menulis surat pada Ibunya. 
Surat yang tak kunjung berbalas tentu saja. Akhsan kecil terus saja melakukan itu, karena ia tak mengerti bahwa Mamanya telah tiada.
Jadi teman-teman, Bapak Ibu, mari berhenti menshare video ini, karena ada bocah kecil malang yang nantinya akan terus ditertawakan. Akhsan itu saudara kita, anak Indonesia yang harus dibantu dan disayangi, alih-alih dijadikan bahan olok-olok karena kekurangannya. 
- Bu Anni Albayan -
Semoga bermanfaat ❤❤
<<<akhir broadcast Hoax>>>

Seperti terlihat pada pesan Whatsapp pada gambar 2 di bawah ini :
Gambar 2, Broadcast Hoax AR disleksia dan yatim piatu

Rekayasa Sosial
Rekayasa sosial utama yang dipergunakan sebagai senjata untuk membuat penerimanya merasa bersalah, lalu secara tidak sadar untuk menebus kesalahannya ia ikut membroadcast pesan HOAX tersebut.
Adapun data yang digunakan untuk membuat penerima broadcast ini merasa bersalah adalah AR disebut sebagai :
  • Penyandang difabel Dyslexia
  • Anak yatim piatu
  • Setiap hari menulis surat kepada ibunya
  • Suratnya tak kunjung di balas
Vaksincom berusaha mencari informasi yang mengkonfirmasikan kebenaran klaim dalam broadcast tersebut, namun tidak berhasil menemukannya. Yang ditemukan malah banyak media online yang bukannya melakukan klarifikasi atas data tersebut, sebaliknya malah mengutip informasi yang tidak jelas sumbernya seperti pada gambar 1 di atas.
Menelusuri endorser yang digunakan Noviana Dibyantari, ia memang benar merupakan Koordinator Komunitas Difabel Semarang, namun tidak ada satu sumber yang dapat dipercaya yang mendukung klaim pada broadcast bahwa Komunitas Difabel Semarang memberikan pernyataan seperti yang di klaim pada berita Hoax di atas. Sebagai catatan, AR bersekolah di Ciputat dan berdomisili di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat sehingga secara jarak dan biaya agak janggal jika diurus oleh komunitas difabel yang berdomisili di Semarang.
Satu-satunya sumber yang dapat dipercaya adalah situs KPAI yang meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan video siswa salah bicara ikan tongkol. Tanpa ada embel-embel penyandang disleksia, anak yatim piatu dan setiap hari menulis surat kepada ibunya yang tidak pernah membalas.


Pencerahan
Baru setelah salah satu wartawan dari media nasional yang cukup terpercaya berhasil menemui AR dan melakukan wawancara terungkap bahwa broadcast ini mengandung banyak unsur kebohongan sehingga masyarakat harus disadarkan untuk tidak mudah terpengaruh dan menyebarkan broadcast Hoax ini. 

Menurut pengamatan Vaksincom, pembuat berita ini sudah cukup berpengalaman dalam membuat berita bohong dan piawai meramu data yang valid dan membungkus rapi dengan data bodong yang sulit di crosscheck supaya penerimanya merasa bersalah sehingga tujuan pembuat Hoax ini tercapai, yaitu berita Hoax tersebar dengan cepat.
Adapun unsur-unsur kebohongan yang terkandung dalam Hoax tersebut di atas adalah :
  1. Penyandang difabel Dyslexia; tidak ada bukti dan fakta yang menunjukkan AR adalah penyandang disleksia.
  2. Anak yatim piatu; AR memang tinggal bersama Eyang dan pamannya tetapi orang tuanya masih hidup. Pembuat Hoax jelas tidak peduli mengatakan orang tua AR sudah meninggal, demi Hoaxnya tersebar banyak rekayasa sosial yang bersedia dilakukan pembuat Hoax. Namun agak kontradiktif mengingat ia mencoba berbuat kebaikan dengan melakukan kejahatan / fitnah.
  3. Setiap hari menulis surat kepada ibunya; tidak ada fakta yang mendukung hal ini karena orang tua AR masih hidup dan dikatakan AR menulis surat kepada ibunya yang sudah meninggal. 
  4. Suratnya tak kunjung di balas; hal ini diutarakan untuk menarik simpati dan rasa kasihan penerima Hoax dan menambah rasa bersalah karena sudah menyebarkan video AR. Tujuannya adalah karena rasa bersalah ini membuat penerima Hoax menyebarkan Hoax ini.

Dari pengalaman ini, Vaksincom menyarankan kepada para pengguna media sosial untuk tidak mudah mempercayai suatu pesan. Lakukan crosscheck dari sumber terpercaya terlebih dahulu sebelum melakukan posting di Wall Facebook anda, membroadcast ke messenger atau tweet ke twitter anda. Selain anda berpotensi melanggar Undang Undang ITE jika menyebarkan Hoax dan bisa terancam hukuman pidana, Hoax yang banyak menyebar sering berisi ujaran kebencian dan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. Jadi, kalau ragu-ragu, sebaiknya JANGAN di broadcast atau ditanyakan ke pihak yang mengerti tentang Hoax seperti turnbackhoax.id atau bergabung dengan group diskusi Hoax Vaksincom di https://t.me/joinchat/AAAAAAkvdKmZyuPrWmcFgw
Salam,

Alfons Tanujaya
info@vaksin.com
 
PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Website : http://www.vaksin.com
http://www.virusicu.com
Fanpage : www.facebook.com/vaksincom
Twitter : @vaksincom
Share by: