Dibalik kisruh i-Doser, viral marketing

15 Oktober 2015
Dibalik kisruh i-Doser, Viral Marketing
Masih ingat cerita seorang istri yang diceraikan oleh suaminya karena melahirkan anak yang jelek sekitar 3 tahun yang lalu ? Tabloid Heilongjiang mengarang cerita seorang wanita yang sebenarnya tidak cantik lalu melakukan operasi plastik sehingga menjadi cantik jelita demi menikahi suami yang ganteng. Namun karena anak yang dilahirkan jelek, maka suaminya marah dan terungkap bahwa ia melakukan operasi plastik. Buntutnya istri tersebut diceraikan dan suami menuntut kerugian kepada istrinya tersebut. (lihat gambar 1)
Gambar 1, Heidi yeh yang karirnya hancur karena berita bohong yang menjadi viral

Ini adalah salah satu contoh dari viral marketing yang memberikan dampak negatif pada korbannya. Cerita yang sebenarnya adalah Heidi Yeh, seorang model Taiwan yang memang cantik (bukan karena operasi plastik) di kontrak oleh agensi JWT J. Walter Thompson untuk melakukan sesi pemotretan untuk klinik kecantikan Simple Beauty. Lalu oleh tabloid Heilongjiang direkayasa cerita palsu seolah-olah Heidi adalah wanita jelek yang menjalani operasi plastik dan diceraikan oleh suaminya dan hal ini rupanya dipercaya oleh banyak orang di seluruh dunia. Akibat dari viral marketing tersebut orang lebih mengenal Heidi Yeh sebagai orang jelek yang melakukan operasi plastik dan mengakibatkan rusaknya karirnya di permodelan dimana ia pelan-pelan kehilangan order dari pekerjaannya sebagai model karena cap salah yang diberikan tersebut. Sang model akhirnya memilih menuntut agensi talent dan klinik kecantikan tersebut. http://nextshark.com/heidi-yeh-model-cosmetic-surgery/

Hal tersebut di atas membuktikan kuatnya pengaruh viral marketing (baik yang positif maupun negatif)  sampai mampu mengubah pandangan dan persepsi pembacanya. Hal yang mirip terjadi pada beberapa hari terakhir ini sehubungan dengan i-Doser yang juga secara viral menyebar baik melalui BBM, Whatsapp atau postingan Facebook. http://www.vaksin.com/1015-idoser-Hoax Tentunya sebagai orang tua tidak ada yang ingin anaknya menjadi korban narkoba digital tersebut, apalagi Hoax tersebut menyertakan nama institusi pendidikan ternama dan BNN yang dikatakan merehabilitasi korban i-Doser berumur 9 sampai 65 tahun. Walaupun sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya dimana BNN justru menyatakan bahwa i-Doser tidak termasuk dalam kategori narkoba http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/berita/2015/10/13/2085/i-Doser-narkoba-digital.

Provokatif
Jika di teliti lebih jauh pada Hoax yang beredar, dimana dikatakan ada versi gratisan i-Doser yang jika diunduh dan didengarkan akan menyebabkan ketergantungan setelah di dengarkan melalui earphone sekitar 10-15 menit. Informasi tersebut kurang akurat karena i-Doser hanya tersedia dalam bentuk aplikasi berbayar. Kemungkinan yang dimaksudkan adalah aplikasi i-Stoner yang sama sekali tidak disebutkan dalam Hoax tersebut (lihat gambar 1). i-Stoner memiliki dua pilihan, i-Stoner Free dan i-Stoner premium.
Gambar 1, i-Stoner Free

Kemungkinan yang dimaksudkan dalam Hoax yang ebredar adalah aplikasi i-Stoner Free yang memang bisa dipasang secara gratis. Sebenarnya yang meresahkan adalah teknik penamaan produk yang di pilih oleh pembuat apps dimana nama i-Stoner saja sudah membuat cemas pembacanya. Kata “stoned” identik dengan arti sedang melayang karena obat bius, khususnya marijuana.
Kalau kata stoned saja sudah membuat cemas para orang tua, coba lihat nama yang diberikan pada varian produk i-Stoner Free ini, tidak heran jika para orang tua yang waras langsung memberikan cap negatif. (lihat gambar 2) :

Current Drugs :
  • Cocaine
  • Ecstasy
  • Hash
  • Heroin
  • Marijuana
  • Multiple O
  • Nitrous
  • Viagra
  • Opium
  • Orgasm
Ibaratnya punya anak perempuan yang menanjak remaja berpacaran dengan pria dengan rambut punk warna warni yang hidungnya di tindik dan bertato dimana-mana. Sudah pasti akan langsung bertindak melindungi anak perempuannya tanpa melihat lebih jauh kepribadian si anak punk ini. Yang bisa-bisa ternyata mellow atau kalau dibentak orang langsung mewek.
Gambar 2, i-Stoner Free

Sumber berita dari Wired
Salah satu hal yang mungkin membuat bingung  adalah berita dari Wired.com dan link tersebut sangat sering digunakan sebagai tautan menyebarkan Hoax i-Doser. Wired adalah situs berita yang cukup terpercaya dan berita yang dikutip tersebut terkesan memberikan legitimasi keberadaan narkoba digital ini. Berita tersebut adalah berita 5 tahun yang lalu di Wired.com pada tanggal 14 Juli 2010 pkl 16:14 yang “seakan-akan” melegitimasi bahwa narkoba digital ini benar ada.

Faktanya adalah :

Wired mengutip pemberitaan oleh Oklahoma News 9 yang memberitakan tentang fenomena i-Doser dan kekhawatiran orang tua yang diwawancarai terhadap i-Doser dimana dalam berita tersebut ada juru bicara dari Oklahoma Bureau and Narcotics and Dangerous Drugs (kira-kria seperti Biro Narkotika Oklahoma) yang memberikan komentarnya. Jadi muncul kesan seakan-akan hal ini di endorse oleh Biro Narkotika Oklahoma. Padahal dalam berita tersebut, pernyataan yang diberikan oleh Biro Narkotika Oklahoma adalah :

Kids are going to flock to these sites just to see what it is about and it can lead them to other places,” Oklahoma Bureau of Narcotics and Dangerous Drugs spokesman Mark Woodward told News 9".

Anak-anak berlomba mengunjungi situs ini karena rasa ingin tahunya dan ini bisa mengarahkan mereka ke tempat lain. Dan sama sekali tidak ada pernyataan dari pihak bahwa i-Doser adalah narkoba digital. Yang dikhawatirkan oleh pihak berwenang adalah para pengedar narkoba justru memanfaatkan situs ini sebagai sarana untuk menyebarkan narkoba yang sebenarnya.
Justru yang perlu dihargai adalah pernyataan dari BNN Biro Narkotika Nasional jelas-jelas memberikan ketegasan dan ketenangan kepada para orang tua bahwa i-Doser tidak termasuk dalam kategori narkoba.

Efektivitas i-Doser
Terlepas dari penyebaran Hoax di atas, Vaksincom tergelitik untuk melakukan analisa simpel berdasarkan data independen yang cukup terpercaya mengenai perusahaan i-Doser dan efektivitas produk ini apakah sesuai dengan klaimnya.

Teknik yang digunakan oleh i-Doser, i-Stoner dan produk lainnya adalah binaural wave dimana dua suara dengan gelombang yang berbeda diperdengarkan pada saat yang bersamaan pada telinga manusia (biasanya melalui earphone) dimana otak manusia akan memproses suara yang telah di atur sedemikian rupa sehingga mempengaruhi frekuensi gelombang otak. Namun pengaruh yang diberikan oleh binaural wave ini lebih kepada hipnosis atau efek meditasi dan sangat berbeda dengan teler karena narkoba.
Pendiri i-Doser Nick Ashton yang mengatakan akan menjawab semua pertanyaan mengenai i-Doser langsung bungkam ketika ditanyakan apa latar belakangnya dan apakah ia memiliki gelar akademik yang mendukung dasar klaimnya.

Penggiat dan ahli binaural Carl Harvey www.binauralbeatsgeek.com setelah mencoba produk best seller i-Doser dengan nama Coccaine dan Marijuana mengatakan bahwa kedua binaural tersebut termasuk kedalam binaural dengan kualitas yang buruk. Bisa saja jika ingin digunakan sebagai pengantar tidur siang. Tetapi, yang jelas tidak mungkin membawa anak anda menjadi teler seperti yang diakibatkan oleh narkoba dan digembar-gemborkan oleh i-Doser.

Justru seperti yang harus dikhawatirkan adalah i-Doser dan i-Stoner digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan narkoba kepada anak-anak anda. Baik melalui situs ataupun iklan di aplikasi.
Salam,


Alfons Tanujaya
info@vaksin.com

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7A Kav.A
Cikini, Jakarta 10330
Website : http://www.vaksin.com
http://www.virusicu.com
Fanpage : www.facebook.com/vaksincom

Twitter : @vaksincom
Ph : 021 3190 3800
Share by: