Kaleidoskop Ancaman Sekuriti 2018

Alfons Tanujaya • December 20, 2018

Malware dan insiden sekuriti jagoan 2018

 Insiden sekuriti di tahun 2018 didominasi oleh aktivitas malvertising, adware yang dari sisi kuantitas cukup mendominasi diikuti oleh program miner yang dipicu oleh melambungnya nilai bitcoin di tahun 2017. Kategori malware di atas cukup mendominasi insiden malware namun tidak mengakibatkan kerugian langsung atau signifikan terhadap korbannya seperti yang diakibatkan oleh ransomware.

Ransomware, walaupun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017, dari sisi serangan yang diarahkan kepada korporasi justru mengalami peningkatan dibandingkan serangan kepada korban konsumer / pengguna komputer rumahan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya intensitas serangan ransomware yang mengincar komputer yang RDP Remote Desktop Protocol yang kebanyakan memang digunakan untuk kepentingan bisnis. Namun ransomware tidak akan terlalu bergigi dalam menjalankan aksinya jika tidak didukung oleh senjata rahasianya: eksploitasi celah keamanan dimana jika ransomware konvensional dalam menjalankan aksinya harus memanfaatkan rekayasa sosial sedemikian rupa seperti tagihan dari supplier atau tanda terima kiriman paket sehingga korbannya terperdaya dan mengklik skrip atau program jebakan yang dikirimkan melalui lampiran email. Ransomware di tahun 2018 mendapatkan bantuan dari exploit kit yang melakukan eksploitasi atas celah keamanan sehingga ia dapat berjalan secara otomatis dimana komputer korbannya cukup hanya perlu mengunjungi halaman situs yang telah dipersiapkan dan tanpa klik apapun komputer yang mengandung celah keamanan tersebut akan secara otomatis terinfeksi oleh ransomware. Untuk mendapatkan kemampuan super seperti ini, ransomware memanfaatkan exploit kit dan di tahun 2018 juga ditandai dengan munculnya satu exploit kit baru yang sangat berbahaya dan selalu diupdate oleh pembuatnya. Ibarat lingkaran setan, pembuat ransomware juga memanfaatkan malvertising / malware advertising dimana dalam menjalankan aksinya mereka sering menumpang iklan atau program bajakan gratis yang pada akhirnya mengakibatkan infeksi ransomware.

Adapun insiden sekuriti di tahun 2018 yang cukup menarik perhatian menurut catatan Vaksincom adalah sebagai berikut :


  • GandCrab
    GandCrab adalah ransomware yang notabene dapat dikatakan sebagai raja ransomware di tahun 2018 yang sangat aktif menjalankan aksinya sejak bulan Januari 2018 dan tidak berhenti mengeluarkan varian baru sepanjang tahun. Aksinya di awal 2018 sempat terhenti karena kunci dekripsi untuk varian pertamanya berhasil dipecahkan dan dibagikan secara gratis oleh Europol bekerjasama dengan Bit defender, namun bukannya terhenti, pembuat GandCrab segera memperbaiki kelemahan dalam programnya dan mengeluarkan varian baru yang makin sulit dipecahkan. Jika di awal tahun 2018 GandCrab mengandalkan pada rekayasa sosial dengan mengirimkan email berlampiran memalsukan tagihan supplier atau tanda terima kurir yang jika dibuka oleh penerimanya akan mengaktifkan ransomware, menjelang akhir tahun 2018, GandCrab memanfaatkan exploit kit baru Fallout Exploit kit sehingga ia memiliki kemampuan untuk menginfeksi komputer korbannya secara otomatis cukup hanya mengunjungi halaman situs yang telah dipersiapkan. Kabar gembira bagi korban GanCrab dan sebaliknya kabar buruk bagi GandCrab, menjelang akhir tahun 2018, selain versi 1 yang berhasil dipecahkan, enkripsi GandCrab versi 4 dan 5 berhasil dipecahkan dan dibagikan secara gratis di situs nomoreransom.org.

  • Fallout Exploit Kit
    Ibarat istri setia yang berada dibelakang keberhasilan suaminya, Fallout Exploit Kit berada dibalik keberhasilan GandCrab menyebarkan dirinya. Exploit kit adalah program yang memfokuskan aksinya pada eksploitasi celah keamanan dari komputer yang menjadi sasarannya. Exploit kit akan memindai komputer korbannya dan mencari program apa saja yang ada dikomputer tersebut yang bisa dieksploitasi dan setelah berhasil menemukan celah yang bisa dieksploitasi, maka celah keamanan tersebut akan dieksploitasi oleh malware guna menjalankan aksinya. Fallout Exploit kit diduga merupakan turunan dari Nuclear exploit kit yang dimasa lalu sempat menjadi raja exploit kit. Kesaktian Fallout exploit kit menjadikan dirinya sebagai exploit kit favorit dan setelah digunakan oleh GandCrab, malware lain seperti Kraken ransomware, SAVEfiles ransomware, CoalaBot dan PUP Potentially Unwanted Programs berlomba-lomba menggunakan Fallout dalam menyebarkan dirinya. Sasaran utama Fallout adalah kelemahan dalam program populer lintas platform seperti Flash, Acrobat dan Internet Explorer.

  • Kriptominer
    Seiring melambungnya nilai bitcoin di akhir tahun 2017, program kripto miner mengalami peningkatan signifikan dimana program ini akan berusaha memanfaatkan sumberdaya / komputer orang lain guna melakukan aktivitas mining untuk keuntungan pembuat program ini. Namun di tahun 2018 aksi ini mengalami penurunan dan terjadi pergeseran pada aksi yang dilakukan dimana jika sebelumnya sembarang yang situs menjadi sasaran dianggap kurang memberikan hasil, maka giliran situs dan program populer yang menjadi sasaran karena hasil yang lebih menjanjikan. Platform game populer Steam menjadi favorit dipalsukan guna menjaring korban gamer yang umumnya memiliki spesifikasi hardware yang mumpuni untuk kriptomining, eksploitasi celah keamanan Apache Strut dan CMS Content Management System menunjukkan program populer lebih menjadi perhatian pelaku kriptomining. Selain itu, IoT Internet of Things dan kelemahan pada router populer ikut dieksploitasi seperti yang terjadi pada router Mikrotik mewarnai insiden sekuriti di tahun 2018.

  • Malvertising dan Adware
    Malvertising merupakan aktivitas penyebaran malware yang melibatkan jaringan iklan internet online. Malvertising menjadi favorit dalam penyebaran malware karena ia mampu menembus perlindungan program sekuriti seperti firewall dan program pengamanan lainnya dan dari sisi pembuat malware, mereka tidak perlu repot menginfeksi suatu situs populer dalam menjalankan aksinya. Cukup hanya memanfaatkan jaringan iklan online yang sudah matang maka mereka akan dapat menjangkau para pengguna komputer yang mengakses situs populer. Salah satu contoh kecil dari malvertising di tahun 2018 adalah aksi GandCrab yang memanfaatkan jaringan iklan online dalam menyebarkan dirinya dan dengan memanfaatkan Fallout Exploit GandCrab akan menginfeksi komputer korbannya yang mengunjungi situs yang menampilkan iklan tertentu tanpa dapat dicegah oleh pemilik situs sekalipun karena metode yang digunakan adalah menumpang jaringan distribusi iklan online yang sangat besar dan rumit.

Secara kuantitas, Adware dan malvertising menjadi raja dalam penyebaran malware di tahun 2018. Adware akan muncul dalam berbagai bentuk, seperti pop up yang menyebalkan guna menakut-nakuti korbannya akan adanya ancaman sekuriti yang sebenarnya tidak ada dengan tujuan supaya korbannya menginstal aplikasi tertentu yang akan memberikan keuntungan finansial bagi pembuat adware. Adware di tahun 2018 banyak datang dalam bentuk scam dan kerap memanfaatkan aplikasi populer seperti Whatsapp yang mengelabui korbannya untuk melakukan broadcast pesan tertentu dengan tema lokal yang sedang populer dan mengimingi keuntungan finansial bagi penyebar broadcast seperti mendapatkan kupon / voucher gratis bagi penyebar scam, mendapatkan stiker Whatsapp gratis jika menyebarkan scam sampai mendapatkan uang tunai dari BPJS jika korbannya menyebarkan scam tersebut. Padahal tujuan utama dari aktivitas ini adalah untuk mendapatkan keuntungan finansial dari broadcast yang memviral dimana penerima broadcast akan disuguhi iklan dan survei yang jika di klik akan menambah pundi-pundi uang pembuat scam.

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

By Alfons Tanujaya March 5, 2026
Banyak analis global menyebut data sebagai “the new oil”. Bukan tanpa alasan. Di era digital, data telah menjadi komoditas ekonomi paling strategis di muka bumi. Namun sering muncul pertanyaan sederhana: jika data begitu berharga, mengapa kita yang memiliki banyak data di komputer atau ponsel tidak otomatis menjadi kaya? Jawabannya sederhana. Memiliki data tidak sama dengan mampu mengolahnya. Ini ibarat seseorang memiliki tanah yang mengandung minyak bumi. Ia tidak serta-merta menjadi kaya raya. Minyak itu harus dieksplorasi, dibor, dimurnikan, lalu didistribusikan sebelum memiliki nilai ekonomi. Data pun demikian. Di tangan pihak yang mampu mengolahnya dengan teknologi dan analitik yang tepat, data berubah menjadi nilai ekonomi luar biasa. Perusahaan teknologi global seperti Meta, Microsoft, Alphabet Inc., Amazon, TikTok, hingga platform digital nasional seperti Tokopedia dan Gojek memanfaatkan data untuk menciptakan layanan yang semakin presisi dan bernilai tinggi. Dalam bentuk yang lebih kompleks, kumpulan data dalam skala besar (big data) yang diolah dengan kecerdasan buatan telah menjadi fondasi perkembangan Artificial Intelligence (AI). Data kini bukan hanya mendukung layanan digital, tetapi menjadi “tambang emas” bagi inovasi generasi berikutnya. Namun, di tangan yang tidak memahami cara mengelola dan melindunginya, data justru bisa menjadi beban — bahkan menjadi sumber bencana. Pengelolaan Data: Antara Berkah dan Amanah Karena data sangat bernilai, ia juga sangat rentan disalahgunakan. Data kependudukan, data pelanggan, rekam medis, data transaksi keuangan — semuanya memiliki konsekuensi serius jika bocor. Pengelolaan data bukan lagi sekadar praktik teknis, tetapi kewajiban hukum. Sejak disahkannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, setiap pengendali dan pemroses data di Indonesia memiliki tanggung jawab yang jelas, termasuk kewajiban menjaga keamanan dan kerahasiaan data. Kunci pengelolaan data sebenarnya sederhana: disiplin menjalankan standar . Standar internasional seperti ISO/IEC 27001 memberikan kerangka kerja sistem manajemen keamanan informasi. Di sektor kesehatan terdapat HIPAA, dan di sektor pembayaran ada PCI DSS. Namun penting dipahami: standar bukanlah jaminan kebal bocor. Sertifikasi bukan tameng sakti. Yang melindungi data bukanlah kertas sertifikat, melainkan praktik pengendalian risiko yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Mengelola data ibarat pernikahan. Sekali Anda berkomitmen mengelola data, Anda terikat untuk menjaganya selama data itu masih ada dan digunakan. Ini bukan komitmen sesaat. Ia juga seperti diet. Semua orang tahu teorinya, tetapi konsistensi jangka panjanglah yang menentukan hasil. Banyak organisasi awalnya disiplin, namun seiring waktu standar dilonggarkan, pengawasan melemah, dan kebiasaan lama kembali muncul. Di titik inilah risiko kebocoran meningkat. Perbedaan besar terletak pada cara memandang data: apakah sebagai “berkah” untuk dimonetisasi sebesar-besarnya, atau sebagai “amanah” yang harus dijaga sebaik mungkin? Data Bocor dan Ban Bocor Jika ban kendaraan bocor, kita bisa menambalnya dan masalah selesai. Tetapi data tidak demikian. Ada prinsip yang sering disebut dalam dunia siber: Once on the internet, always on the internet. Data mungkin bisa dihapus dari sumber aslinya, tetapi jika sudah disalin dan didistribusikan pihak lain, kita tidak lagi memiliki kendali penuh atasnya. Sekali data pribadi bocor dan beredar, dampaknya bisa bertahun-tahun. Data kependudukan yang tersebar dapat digunakan untuk: registrasi kartu prabayar secara ilegal pembukaan rekening penampung dana kejahatan rekayasa sosial untuk mengambil alih akun digital penipuan berbasis identitas Inilah sebabnya model autentikasi global mulai bergeser. Sistem yang dulu hanya mengandalkan “apa yang Anda tahu” (misalnya NIK, tanggal lahir) kini beralih ke kombinasi “apa yang Anda miliki” (device, OTP) dan “siapa Anda” (biometrik). Kebocoran data mengubah paradigma keamanan secara fundamental. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Di era regulasi modern, kegagalan melindungi data bukan sekadar persoalan reputasi. Di bawah UU Perlindungan Data Pribadi, pengendali data dapat dikenakan sanksi administratif, denda, hingga pidana jika terbukti lalai. Namun konsekuensi terberat justru ditanggung oleh pemilik data. Pengelola data mungkin hanya mengalami reputasi yang tercoreng. Pemilik data bisa kehilangan tabungan, identitas, bahkan masa depan finansialnya. Karena itu, pengelolaan data bukan hanya kewajiban teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Melindungi Aset Digital Masyarakat perlu memahami bahwa data digital — kredensial akun, email, akses mobile banking — adalah aset ekonomi. Beberapa langkah dasar yang perlu dilakukan: Gunakan autentikasi dua faktor. Jangan membagikan OTP kepada siapa pun. Waspadai rekayasa sosial yang mengatasnamakan aparat, petugas pajak, atau bank. Gunakan kata sandi unik untuk setiap layanan. Segera ganti kredensial jika ada indikasi kebocoran. Bagi pengelola data, komitmen harus lebih tinggi: Terapkan kontrol akses berbasis kebutuhan. Enkripsi data sensitif. Audit keamanan secara berkala. Lakukan pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan. Siapkan rencana respons insiden. Dan yang paling penting: pahami bahwa keamanan bukan kondisi statis. Ancaman terus berkembang. Hari ini aman bukan berarti besok tetap aman. Penutup Di era digital, data bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah amanah. Nilainya bisa menjadi emas digital yang menciptakan inovasi dan kemakmuran. Tetapi jika lalai dikelola, ia berubah menjadi sumber kerugian yang luas dan berkepanjangan. Pertanyaannya bukan lagi apakah data itu berharga. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup disiplin dan bertanggung jawab untuk menjaganya? Karena dalam dunia digital, kepercayaan dibangun dari keamanan. Dan keamanan lahir dari komitmen yang tidak pernah berhenti.
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya July 21, 2025
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya December 25, 2024
Bulan Desember tahun 2024 ditutup dengan pengumuman Ransomware Bashe yang pada pertengahan Desember mengklaim salah satu bank BUMN yang masuk dalam jajaran 5 besar mengalami kebocoran data dan memberikan waktu sampai 23 Desember 2024 untuk membayar uang tebusan 5 bitcoin atau sekitar Rp. 7,6 milyar rupiah atau data tersebut dijual ke pihak ketiga. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya November 25, 2024
Menyambut penutupan tahun 2024, Vaksincom kembali mengadakan event akhir tahun Evaluasi Malware 2024 dan Trend 2025. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini diadakan dalam bentuk Seminar Outing seperti yang pernah diadakan Vaksincom di tahun 2008. Seminar Outing ini akan diadakan dua hari pada awal Desember 2024 di Pengalengan Bandung dan peserta seminar yang umumnya pegiat IT dan admin yang sehari-hari melakukan aktivitasnya dari belakang meja kini akan mendapatkan lingkungan yang berbeda dalam bentuk Outing mengarungi Jeram di Pengalengan Bandung. Selain evaluasi Malware 2024, peserta seminar juga akan mendapatkan informasi tambahan bagaimana mengamankan jaringan dan data yang dikelolanya dari ancaman Ransomware dimana Vaksincom akan meluncurkan VaksinSIEM (Security Information and Event Management) dimana termasuk ke dalamnya Vaksin Protect yang akan dapat mengembalikan data sekalipun berhasil dienkripsi oleh ransomware hanya dengan 1 kali klik tanpa tergantung pada Backup. Peserta baru yang belum menggunakan layanan Vaksincom akan mendapatkan produk andalan Vaksincom Webroot Endpoint Protection untuk melindungi 50 nodes komputer (Windows Workstation / Server dan Mac OS) yang akan dapat digunakan secara full untuk 90 hari. Bonus tambahan akan diberikan kepada seluruh peserta seminar berupa training pengamanan akun digital Call Paman Onetime (True Caller, Password Manager dan aktivasi One Time Password) dimana seluruh peserta seminar akan dibantu langsung oleh teknisi Vaksincom menginstal dan mengimplementasikan aplikasi True Caller, Password Manager dan Aktivasi Two Factor Authentication untuk semua akun penting anda seperti email (Gmail, Yahoo etc) tanpa tambahan biaya apapun alias Gratis. Adapun Seminar Outing tersebut akan diadakan dengan informasi detail sebagai berikut : Seminar Outing Vaksincom 2024 Tema : Evaluasi Malware Indonesia 2024 dan Trend Malware 2025 Waktu : 6 - 7 Desember 2024 Lokasi : Bandung (Rafting Pengalengan dan penginapan hotel Meize City Center Jl. Sumbawa - Bandung) Fasilitas yang disediakan : - Transportasi PP Jakarta - Bandung - Jakarta berangkat dari dari PT. Vaksincom Jl. R. P. Soeroso 7AA, Jakarta 10330 - Penginapan di Hotel Meize City Center sharing 1 kamar 2 orang. - Konsumsi selama event. - Rafting dan peralatan pengaman rafting serta instruktur yang berpengalaman. - Dokumentasi. - Wisata di Bandung. Biaya Seminar sudah termasuk GRATIS : - Sertifikat Seminar - Lisensi Webroot Endpoint Protection Business untuk 50 Nodes selama 90 hari untuk Windows workstation / server dan Mac OS. - VaksinSIEM untuk 1 (satu) nodes beserta Security Hardening dari Vaksincom selama 90 hari. - Aplikasi Password Manager Full Version automatic sync antara Android, iOS, Windows OS, Browser dan Mac OS. Biaya : - Customer Vaksincom Rp. 1.250.000,- (tidak termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Business 50 nodes) - Umum Rp. 1.950.000,- (termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Busienss 50 nodes) Pendaftaran : Hubungi email [email protected] atau Whatsapp 0897-8696-122 dgn ibu Ami I
By Alfons Tanujaya October 29, 2024
Security is a process, itu adalah mantra yang menjadi pegangan para praktisi sekuriti. Dan proses sekuriti adalah proses tidak berkesudahan. Ibaratnya anda bermain sepakbola, maka administrator sekuriti adalah penjaga gawang yang harus menjaga data yang dikelolanya setiap saat tanpa istirahat, 1 x 24 jam dari serangan striker peretas dari seluruh dunia. Apalagi jika anda mengelola data yang kritikal dan berharga seperti mobile banking yang di incar oleh banyak peretas didunia yang tidak kalah pintar dengan anda. Masalahnya adalah mereka bisa menyerang setiap saat dan anda harus siap berjibaku menjaga data berharga yang anda kelola. Kalau yang diserang adalah server aplikasi yang anda kelola, itu saja sudah membuat pusing kepala dan kita melihat pengelolaan server data yang amburadul mengakibatkan banyaknya kebocoran data di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dalam kasus pengelola mobile banking, skala serangannya justru lebih luas dimana ketika server dan database aplikasi sudah diamankan dengan baik dan sulit diserang, maka penyerang akan mengincar titik terlemah dalam pengamanan aplikasi .... end user alias pengguna aplikasi. Serangan terhadap end user mobile banking yang sangat efektif memanfaatkan rekayasa sosial untuk mendapatkan kepercayaan korbannya seperti mengirimkan APK pencuri SMS yang memalsukan diri sebagai APK kurir online, APK pajak, APK Undangan Pernikahan dan APK Surat Tilang yang intinya adalah mengelabui korbannya menjalankan aplikasi tersebut dan bertujuan mencuri SMS OTP yang akan digunakan oleh peretas untuk mengambil alih dan mengeksploitasi aset digital, baik akun mobile banking, Whatsapp, email atau akun lain sekalipun diproteksi dengan OTP SMS. Pada akhir tahun 2024 ini, aksi yang menggunakan APK pencuri SMS sudah menurun karena efektivitasnya menurun seiring meningkatnya kesadaran pengguna ponsel dan usaha pengamanan yang dilakukan oleh banyak pihak baik pihak bank, dari Google, pengamat sekuriti dan pemerintah yang tidak henti melakukan edukasi terhadap masyarakat atas ancaman ini. Namun sesuai mantra di atas, security is a process. Kini berkembang satu ancaman baru yang perlu diwaspadai dan sangat berpotensi mengancam pengguna aplikasi mobile banking. Dan celakanya, metode yang dipakai adalah mengeksploitasi fitur tambahan yang disediakan oleh Android untuk memudahkan pengguna dengan keterbatasan tertentu. Fitur Aksesibilitas atau Accessibility. Accessibility / Aksesibilitas Aksesibilitas adalah fitur Android untuk membantu pengguna disabilitas. Fitur seperti pembaca teks, subtitel atau tampilan kustom. Untuk mengaktifkan layanan ini di aplikasi membutuhkan akses "accessibility permission" atau "izin aksesibilitas" pada ponsel Android. Dan masalahnya izin ini memberikan hak akses penuh pada perangkat aplikasi. Hak akses penuh ini yang menjadi incaran kriminal siber yang memang selalu berusaha mencari cara untuk mengendalikan ponsel atau tablet. Ketika hak ini didapatkan, maka pengguna ponsel akan terperangkap dan perangkat ponselnya bisa diambilalih. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya June 26, 2024
Ransomware secara de facto menjadi malware yang paling ditakuti oleh pengguna komputer dan pengelola data saat ini. Dalam menjalankan aksinya, ransomware dapat menambahkan aksinya menjadi extortionware. Jika ransomware beraksi dengan mengenkripsi data dan sistem yang diserangnya, maka extortionware adalah ancaman menyebarkan data yang berhasil dicuri jika korbannya menolak membayar uang tebusan yang diminta. Serangan ransomware Brainchiper yang merupakan turunan Lockbit pada Pusat Data Nasional / PDN dibulan Juni 2024 melumpuhkan layanan pemerintah yang memanfaatkan sistem dan data yang dikelola di PDN. Salah satu layanan kritis yang terganggu adalah layanan imigrasi yang menjadi pintu gerbang Indonesia dan mencoreng muka Indonesia karena layanan keimigrasian yang mengakibatkan antrian panjang karena sistem imigrasi yang tadinya dilakukan secara elektronik harus dilakukan secara manual. Lalu institusi apa saja yang menjadi korban serangan ransomware di tahun 2024 ini ? Vaksincom akan mengadakan seminar 2 jam singkat tanggal 2 Juli 2024 mengangkat tema 10 ransomware ganas dan korbannya di Indonesia : Akibat dan mitigasinya. Korban Ransomware Sampai pertengahan tahun 2024, sudah ada 10 institusi besar yang menjadi korban ransomware, baik dari institusi swasta maupun pemerintahan dari berbagai industri seperti logistik, logistik makanan, shopping center, consumer finance, bank, finance services, IT Services, transportasi dan pialang saham. Parahnya lagi ada salah satu institusi keuangan Tbk yang sampai dua kali menjadi korban ransomware yang berbeda pada saat yang berbeda dimana pada Juli 2023 bank tersebut menjadi korban ransomware dengan total data yang berhasil dicuri dan dienkripsi sebanyak 450 GB oleh Ransomhouse (lihat gambar 1).
Artikel Lainnya