Statistik Malware Indonesia 2019 – Bag. 2

Alfons Tanujaya • March 11, 2019

Ransomware masih menjadi momok

 Era piranti lunak jahat generik memang merajai serangan malware di kuartal 1 2019. Kalau di kategori malware dikuasai oleh malware Generik, demikian pula pada kategori Adware dimana Adware Generik menguasai sampai 79 % dari seluruh Adware, disusul oleh Installcore di peringkat dua dengan infeksi 15 %. InstallCore adalah Adware produksi Iron Source, perusahaan yang menjalankan usahanya dalam monetisasi guna mendapatkan keuntungan finansial dari distributor Adware untuk setiap instalasi yang berhasil dilakukan atau iklan yang berhasil ditampilkan. Selain mengincar pengguna OS Windows, InstallCore juga mengincar pengguna Mac. InstallCore sering menampilkan dirinya seakan-akan sebagai “Java Update”. Di belakang InstallCore tercatat Adware PUA seperti Conduit, Downloader, Fusion, Outbrowse, ReimageRepair, AutoIt, Sevas dan Spigot sebanyak 5 % dan pada posisi buncit Adware lainnya seperti Somoto, Adknowledge dan Dealply (1 %).

Adware Generik tetap mendominasi dan mengalahkan adware lainnya

Pada peringkat terakhir, setelah kategori Malware dan Adware, Trojan unjuk gigi menjalankan aksinya. Lagi-lagi jenis Generik yang merajai penyebaran Trojan dengan 58 % insiden diikuti oleh Hacktools (32 %), Dropper (5 %) dan lainnya (5 %). (lihat gambar 6)

Trojan Generik kembali menguasai penyebaran Trojan diikuti oleh Hacktools dan Dropper

Jika diamati secara seksama, kategori Trojan ini berkaitan erat dengan satu jenis malware yang paling ditakuti pengguna komputer saat ini: Ransomware. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, dari semua kategori malware yang dihentikan oleh Webroot pada kuartal 1 2019, kok hanya Wannacry yang berhasil dihentikan dan terdeteksi sebagai Ransomware ?

Lalu dimana Ransomware lainnya yang secara de facto banyak memakan korban di awal tahun 2019 ? Jawabannya adalah karena ransomware tidak pernah berkeliaran dalam bentuk Ransomware seperti Wannacry yang unik dan bersifat worm. Layaknya Jelangkung, ransomware konvensional membutuhkan bantuan dari malware lain untuk masuk ke komputer korbannya dan jika ia berhasil masuk, ia akan menjalankan aksinya mengenkripsi data. Sekali ia berhasil menjalankan aksinya, program ransomware akan melakukan harakiri menghapus dirinya sendiri dan hanya meninggalkan data yang terenkripsi dan pesan meminta uang tebusan.

Belajar dari insiden yang terjadi di bulan Januari 2019, malware DJVU / STOP / RUMBA menginfeksi korbannya dengan cara menumpang pada program Crack atau software bajakan (lihat gambar 7 dan 8)

Rumba / STOP ransomware menginfeksi melalui instalasi piranti lunak bajakan
Salah satu contoh file yang populer digunakan untuk membajak dan sebaiknya dihindari karena rentan mengandung Ransomware.

Vaksincom menyarankan anda untuk tidak melakukan pembajakan piranti lunak karena selain banyak mengandung malware, tindakan membajak pirnati lunak adalah tindakan melanggar hukum. Dalam jangka panjang aktivitas membajak piranti lunak akan mematikan industri piranti lunak dalam negeri dan membuat Indonesia kehilangan daya saing dengan negara lain dalam industri piranti lunak.

Ransomware Q1 2019

Beberapa ransomware baru dan menarik yang perlu di waspadai di tahun 2019 menurut catatan Vaksincom adalah :


  • Blackpink. Mungkin ransomware yang paling mudah diingat milenial adalah ransomware Blackpink. Kesamaannya adalah dua-duanya membuat korbannya histeris. Kalau Blackpink membuat penggemarnya histeris membayangkan idolanya, ransomware Blackpink juga membuat korbannya histeris membayangkan datanya yang hilang. Kabar baiknya, saat ini ransomware Blackpink mengganas di Korea Selatan dan memakan banyak korban. Kita doakan saja semoga hanya group Blackpink yang melakukan konser ke Indonesia dan bukan ransomwarenya.
  • GandCrab yang sampai saat ini terus mengeluarkan varian baru. Jika anda pernah menjadi korban Gandcrab, ada kabar gembira bagi anda karena hampir semua varian GandCrab 5.2 ke bawah sudah bisa di dekripsi. Hubungi vendor antivirus anda untuk mendapatkan bantuan dekripsi.
  • Cr1pt0r Ransomware yang mengincar perangkat NAS Network Attached Storage D-Link. Masalah utamanya adalah setiap perangkat yang terkoneksi ke jaringan baik NAS, router, switch atau modem semuanya memiliki piranti lunak (firmware) yang sama seperti piranti lunak lain banyak yang memiliki celah keamanan dan rentan di eksploitasi. Cr1pt0r akan mengincar NAS D-Link tipe DNS 320 yang sebenarnya sudah tidak di jual namun masih di support oleh D-link dengan update firmware untuk menutupi celah keamanan, namun nampaknya mengupdate firmware perangkat keras kurang menjadi perhatian pemilik perangkat keras dan NAS seharusnya hanya digunakan dalam intranet dan tidak disarankan untuk dikoneksikan ke internet. Namun ternyata banyak pengguna yang nekad mengkoneksikan ke internet sehingga dapat dipindai oleh ransomware dan seluruh data NAS tersebut dienkripsi. Jika anda memiliki NAS D-link, harap segera update firmware NAS anda dengan mengikuti petunjuk dari https://securityadvisories.dlink.com/announcement/publication.aspx?name=SAP10110
  • Ransomware Rontok. Masih ingat virus Brontok atau Rontokbro ? Virus lokal yang sempat merajai tangga virus Indonesia di tahun 2000an. Entah terinspirasi oleh Rontokbro atau pembuatnya memiliki hubungan dengan Rontokbro, ada ransomware cukup canggih yang mengincar sistem operasi Linux dengan nama Rontok. Jika berhasil menginfeksi akan mengenkripsi dengan ekstensi .rontok. Bukan hanya data penting yang menjadi .rontok, tetapi dijamin jika anda memiliki data penting di server Linux tersebut maka dijamin tabungan atau jantung anda akan rontok juga karena uang tebusan yang diminta untuk dekripsi data adalah 20 bitcoin atau sekitar Rp. 1 milyar rupiah. Menurut pantauan Vaksincom, sampai saat artikel ini dibuat, rekening bitcoin yang disediakan oleh Rontok masih belum menerima transaksi bitcoin masuk. Karena itu administrator server Linux harus super hati-hati dan selalu mengupdate sistemnya dari celah keamanan dan membackup data penting servernya untuk berjaga-jaga kalau tidak mau data atau tabungannya .rontok.... Bro.

Fakta yang harus disadari oleh seluruh pengguna komputer dan administrator adalah dalam pertempuran melawan malware / ransomware, antivirus tradisional akan selalu tertinggal 1 langkah dimana ada waktu tenggang dari saat pertama kali malware disebarkan sampai ia terdeteksi oleh seluruh klien antivirus melalui update sekitar 1 – 14 hari. Dan tenggang waktu inilah yang dimanfaatkan oleh Ransomware untuk menghindari deteksi antivirus dan tetap berhasil mengenkripsi data komputer korbannya. Mungkin anda bisa meningkatkan perlindungan dengan memilih antivirus yang memiliki perlindungan ekstra terhadap ransomware (lihat gambar 8)

Antivirus yang memiliki proteksi tambahan terhadap ransomware menurut pengetesan PC Magazine

dan anda bisa melakukan harden security ransomware pada komputer / server anda seperti menggunakan NGAV Next Generation Antivirus, menonaktifkan WSH Windows Scripting Host, memonitor aktivitas enkripsi dengan ketat, menghindari Full sharing di jaringan, menggunakan cloud storage dengan fitur file versioning sampai melindungi system restore yang akan meningkatkan perlindungan dari Ransomware yang kami istilahkan Ransom Protect.

Namun Vaksincom tetap tidak menyarankan anda melupakan obat dewa yang bisa menyembuhkan dari segala akibat Ransomware. BACKUP .... BACKUP .... BACKUP.

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

By Alfons Tanujaya March 5, 2026
Banyak analis global menyebut data sebagai “the new oil”. Bukan tanpa alasan. Di era digital, data telah menjadi komoditas ekonomi paling strategis di muka bumi. Namun sering muncul pertanyaan sederhana: jika data begitu berharga, mengapa kita yang memiliki banyak data di komputer atau ponsel tidak otomatis menjadi kaya? Jawabannya sederhana. Memiliki data tidak sama dengan mampu mengolahnya. Ini ibarat seseorang memiliki tanah yang mengandung minyak bumi. Ia tidak serta-merta menjadi kaya raya. Minyak itu harus dieksplorasi, dibor, dimurnikan, lalu didistribusikan sebelum memiliki nilai ekonomi. Data pun demikian. Di tangan pihak yang mampu mengolahnya dengan teknologi dan analitik yang tepat, data berubah menjadi nilai ekonomi luar biasa. Perusahaan teknologi global seperti Meta, Microsoft, Alphabet Inc., Amazon, TikTok, hingga platform digital nasional seperti Tokopedia dan Gojek memanfaatkan data untuk menciptakan layanan yang semakin presisi dan bernilai tinggi. Dalam bentuk yang lebih kompleks, kumpulan data dalam skala besar (big data) yang diolah dengan kecerdasan buatan telah menjadi fondasi perkembangan Artificial Intelligence (AI). Data kini bukan hanya mendukung layanan digital, tetapi menjadi “tambang emas” bagi inovasi generasi berikutnya. Namun, di tangan yang tidak memahami cara mengelola dan melindunginya, data justru bisa menjadi beban — bahkan menjadi sumber bencana. Pengelolaan Data: Antara Berkah dan Amanah Karena data sangat bernilai, ia juga sangat rentan disalahgunakan. Data kependudukan, data pelanggan, rekam medis, data transaksi keuangan — semuanya memiliki konsekuensi serius jika bocor. Pengelolaan data bukan lagi sekadar praktik teknis, tetapi kewajiban hukum. Sejak disahkannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, setiap pengendali dan pemroses data di Indonesia memiliki tanggung jawab yang jelas, termasuk kewajiban menjaga keamanan dan kerahasiaan data. Kunci pengelolaan data sebenarnya sederhana: disiplin menjalankan standar . Standar internasional seperti ISO/IEC 27001 memberikan kerangka kerja sistem manajemen keamanan informasi. Di sektor kesehatan terdapat HIPAA, dan di sektor pembayaran ada PCI DSS. Namun penting dipahami: standar bukanlah jaminan kebal bocor. Sertifikasi bukan tameng sakti. Yang melindungi data bukanlah kertas sertifikat, melainkan praktik pengendalian risiko yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Mengelola data ibarat pernikahan. Sekali Anda berkomitmen mengelola data, Anda terikat untuk menjaganya selama data itu masih ada dan digunakan. Ini bukan komitmen sesaat. Ia juga seperti diet. Semua orang tahu teorinya, tetapi konsistensi jangka panjanglah yang menentukan hasil. Banyak organisasi awalnya disiplin, namun seiring waktu standar dilonggarkan, pengawasan melemah, dan kebiasaan lama kembali muncul. Di titik inilah risiko kebocoran meningkat. Perbedaan besar terletak pada cara memandang data: apakah sebagai “berkah” untuk dimonetisasi sebesar-besarnya, atau sebagai “amanah” yang harus dijaga sebaik mungkin? Data Bocor dan Ban Bocor Jika ban kendaraan bocor, kita bisa menambalnya dan masalah selesai. Tetapi data tidak demikian. Ada prinsip yang sering disebut dalam dunia siber: Once on the internet, always on the internet. Data mungkin bisa dihapus dari sumber aslinya, tetapi jika sudah disalin dan didistribusikan pihak lain, kita tidak lagi memiliki kendali penuh atasnya. Sekali data pribadi bocor dan beredar, dampaknya bisa bertahun-tahun. Data kependudukan yang tersebar dapat digunakan untuk: registrasi kartu prabayar secara ilegal pembukaan rekening penampung dana kejahatan rekayasa sosial untuk mengambil alih akun digital penipuan berbasis identitas Inilah sebabnya model autentikasi global mulai bergeser. Sistem yang dulu hanya mengandalkan “apa yang Anda tahu” (misalnya NIK, tanggal lahir) kini beralih ke kombinasi “apa yang Anda miliki” (device, OTP) dan “siapa Anda” (biometrik). Kebocoran data mengubah paradigma keamanan secara fundamental. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Di era regulasi modern, kegagalan melindungi data bukan sekadar persoalan reputasi. Di bawah UU Perlindungan Data Pribadi, pengendali data dapat dikenakan sanksi administratif, denda, hingga pidana jika terbukti lalai. Namun konsekuensi terberat justru ditanggung oleh pemilik data. Pengelola data mungkin hanya mengalami reputasi yang tercoreng. Pemilik data bisa kehilangan tabungan, identitas, bahkan masa depan finansialnya. Karena itu, pengelolaan data bukan hanya kewajiban teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Melindungi Aset Digital Masyarakat perlu memahami bahwa data digital — kredensial akun, email, akses mobile banking — adalah aset ekonomi. Beberapa langkah dasar yang perlu dilakukan: Gunakan autentikasi dua faktor. Jangan membagikan OTP kepada siapa pun. Waspadai rekayasa sosial yang mengatasnamakan aparat, petugas pajak, atau bank. Gunakan kata sandi unik untuk setiap layanan. Segera ganti kredensial jika ada indikasi kebocoran. Bagi pengelola data, komitmen harus lebih tinggi: Terapkan kontrol akses berbasis kebutuhan. Enkripsi data sensitif. Audit keamanan secara berkala. Lakukan pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan. Siapkan rencana respons insiden. Dan yang paling penting: pahami bahwa keamanan bukan kondisi statis. Ancaman terus berkembang. Hari ini aman bukan berarti besok tetap aman. Penutup Di era digital, data bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah amanah. Nilainya bisa menjadi emas digital yang menciptakan inovasi dan kemakmuran. Tetapi jika lalai dikelola, ia berubah menjadi sumber kerugian yang luas dan berkepanjangan. Pertanyaannya bukan lagi apakah data itu berharga. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup disiplin dan bertanggung jawab untuk menjaganya? Karena dalam dunia digital, kepercayaan dibangun dari keamanan. Dan keamanan lahir dari komitmen yang tidak pernah berhenti.
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya July 21, 2025
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya December 25, 2024
Bulan Desember tahun 2024 ditutup dengan pengumuman Ransomware Bashe yang pada pertengahan Desember mengklaim salah satu bank BUMN yang masuk dalam jajaran 5 besar mengalami kebocoran data dan memberikan waktu sampai 23 Desember 2024 untuk membayar uang tebusan 5 bitcoin atau sekitar Rp. 7,6 milyar rupiah atau data tersebut dijual ke pihak ketiga. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya November 25, 2024
Menyambut penutupan tahun 2024, Vaksincom kembali mengadakan event akhir tahun Evaluasi Malware 2024 dan Trend 2025. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini diadakan dalam bentuk Seminar Outing seperti yang pernah diadakan Vaksincom di tahun 2008. Seminar Outing ini akan diadakan dua hari pada awal Desember 2024 di Pengalengan Bandung dan peserta seminar yang umumnya pegiat IT dan admin yang sehari-hari melakukan aktivitasnya dari belakang meja kini akan mendapatkan lingkungan yang berbeda dalam bentuk Outing mengarungi Jeram di Pengalengan Bandung. Selain evaluasi Malware 2024, peserta seminar juga akan mendapatkan informasi tambahan bagaimana mengamankan jaringan dan data yang dikelolanya dari ancaman Ransomware dimana Vaksincom akan meluncurkan VaksinSIEM (Security Information and Event Management) dimana termasuk ke dalamnya Vaksin Protect yang akan dapat mengembalikan data sekalipun berhasil dienkripsi oleh ransomware hanya dengan 1 kali klik tanpa tergantung pada Backup. Peserta baru yang belum menggunakan layanan Vaksincom akan mendapatkan produk andalan Vaksincom Webroot Endpoint Protection untuk melindungi 50 nodes komputer (Windows Workstation / Server dan Mac OS) yang akan dapat digunakan secara full untuk 90 hari. Bonus tambahan akan diberikan kepada seluruh peserta seminar berupa training pengamanan akun digital Call Paman Onetime (True Caller, Password Manager dan aktivasi One Time Password) dimana seluruh peserta seminar akan dibantu langsung oleh teknisi Vaksincom menginstal dan mengimplementasikan aplikasi True Caller, Password Manager dan Aktivasi Two Factor Authentication untuk semua akun penting anda seperti email (Gmail, Yahoo etc) tanpa tambahan biaya apapun alias Gratis. Adapun Seminar Outing tersebut akan diadakan dengan informasi detail sebagai berikut : Seminar Outing Vaksincom 2024 Tema : Evaluasi Malware Indonesia 2024 dan Trend Malware 2025 Waktu : 6 - 7 Desember 2024 Lokasi : Bandung (Rafting Pengalengan dan penginapan hotel Meize City Center Jl. Sumbawa - Bandung) Fasilitas yang disediakan : - Transportasi PP Jakarta - Bandung - Jakarta berangkat dari dari PT. Vaksincom Jl. R. P. Soeroso 7AA, Jakarta 10330 - Penginapan di Hotel Meize City Center sharing 1 kamar 2 orang. - Konsumsi selama event. - Rafting dan peralatan pengaman rafting serta instruktur yang berpengalaman. - Dokumentasi. - Wisata di Bandung. Biaya Seminar sudah termasuk GRATIS : - Sertifikat Seminar - Lisensi Webroot Endpoint Protection Business untuk 50 Nodes selama 90 hari untuk Windows workstation / server dan Mac OS. - VaksinSIEM untuk 1 (satu) nodes beserta Security Hardening dari Vaksincom selama 90 hari. - Aplikasi Password Manager Full Version automatic sync antara Android, iOS, Windows OS, Browser dan Mac OS. Biaya : - Customer Vaksincom Rp. 1.250.000,- (tidak termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Business 50 nodes) - Umum Rp. 1.950.000,- (termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Busienss 50 nodes) Pendaftaran : Hubungi email [email protected] atau Whatsapp 0897-8696-122 dgn ibu Ami I
By Alfons Tanujaya October 29, 2024
Security is a process, itu adalah mantra yang menjadi pegangan para praktisi sekuriti. Dan proses sekuriti adalah proses tidak berkesudahan. Ibaratnya anda bermain sepakbola, maka administrator sekuriti adalah penjaga gawang yang harus menjaga data yang dikelolanya setiap saat tanpa istirahat, 1 x 24 jam dari serangan striker peretas dari seluruh dunia. Apalagi jika anda mengelola data yang kritikal dan berharga seperti mobile banking yang di incar oleh banyak peretas didunia yang tidak kalah pintar dengan anda. Masalahnya adalah mereka bisa menyerang setiap saat dan anda harus siap berjibaku menjaga data berharga yang anda kelola. Kalau yang diserang adalah server aplikasi yang anda kelola, itu saja sudah membuat pusing kepala dan kita melihat pengelolaan server data yang amburadul mengakibatkan banyaknya kebocoran data di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dalam kasus pengelola mobile banking, skala serangannya justru lebih luas dimana ketika server dan database aplikasi sudah diamankan dengan baik dan sulit diserang, maka penyerang akan mengincar titik terlemah dalam pengamanan aplikasi .... end user alias pengguna aplikasi. Serangan terhadap end user mobile banking yang sangat efektif memanfaatkan rekayasa sosial untuk mendapatkan kepercayaan korbannya seperti mengirimkan APK pencuri SMS yang memalsukan diri sebagai APK kurir online, APK pajak, APK Undangan Pernikahan dan APK Surat Tilang yang intinya adalah mengelabui korbannya menjalankan aplikasi tersebut dan bertujuan mencuri SMS OTP yang akan digunakan oleh peretas untuk mengambil alih dan mengeksploitasi aset digital, baik akun mobile banking, Whatsapp, email atau akun lain sekalipun diproteksi dengan OTP SMS. Pada akhir tahun 2024 ini, aksi yang menggunakan APK pencuri SMS sudah menurun karena efektivitasnya menurun seiring meningkatnya kesadaran pengguna ponsel dan usaha pengamanan yang dilakukan oleh banyak pihak baik pihak bank, dari Google, pengamat sekuriti dan pemerintah yang tidak henti melakukan edukasi terhadap masyarakat atas ancaman ini. Namun sesuai mantra di atas, security is a process. Kini berkembang satu ancaman baru yang perlu diwaspadai dan sangat berpotensi mengancam pengguna aplikasi mobile banking. Dan celakanya, metode yang dipakai adalah mengeksploitasi fitur tambahan yang disediakan oleh Android untuk memudahkan pengguna dengan keterbatasan tertentu. Fitur Aksesibilitas atau Accessibility. Accessibility / Aksesibilitas Aksesibilitas adalah fitur Android untuk membantu pengguna disabilitas. Fitur seperti pembaca teks, subtitel atau tampilan kustom. Untuk mengaktifkan layanan ini di aplikasi membutuhkan akses "accessibility permission" atau "izin aksesibilitas" pada ponsel Android. Dan masalahnya izin ini memberikan hak akses penuh pada perangkat aplikasi. Hak akses penuh ini yang menjadi incaran kriminal siber yang memang selalu berusaha mencari cara untuk mengendalikan ponsel atau tablet. Ketika hak ini didapatkan, maka pengguna ponsel akan terperangkap dan perangkat ponselnya bisa diambilalih. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya June 26, 2024
Ransomware secara de facto menjadi malware yang paling ditakuti oleh pengguna komputer dan pengelola data saat ini. Dalam menjalankan aksinya, ransomware dapat menambahkan aksinya menjadi extortionware. Jika ransomware beraksi dengan mengenkripsi data dan sistem yang diserangnya, maka extortionware adalah ancaman menyebarkan data yang berhasil dicuri jika korbannya menolak membayar uang tebusan yang diminta. Serangan ransomware Brainchiper yang merupakan turunan Lockbit pada Pusat Data Nasional / PDN dibulan Juni 2024 melumpuhkan layanan pemerintah yang memanfaatkan sistem dan data yang dikelola di PDN. Salah satu layanan kritis yang terganggu adalah layanan imigrasi yang menjadi pintu gerbang Indonesia dan mencoreng muka Indonesia karena layanan keimigrasian yang mengakibatkan antrian panjang karena sistem imigrasi yang tadinya dilakukan secara elektronik harus dilakukan secara manual. Lalu institusi apa saja yang menjadi korban serangan ransomware di tahun 2024 ini ? Vaksincom akan mengadakan seminar 2 jam singkat tanggal 2 Juli 2024 mengangkat tema 10 ransomware ganas dan korbannya di Indonesia : Akibat dan mitigasinya. Korban Ransomware Sampai pertengahan tahun 2024, sudah ada 10 institusi besar yang menjadi korban ransomware, baik dari institusi swasta maupun pemerintahan dari berbagai industri seperti logistik, logistik makanan, shopping center, consumer finance, bank, finance services, IT Services, transportasi dan pialang saham. Parahnya lagi ada salah satu institusi keuangan Tbk yang sampai dua kali menjadi korban ransomware yang berbeda pada saat yang berbeda dimana pada Juli 2023 bank tersebut menjadi korban ransomware dengan total data yang berhasil dicuri dan dienkripsi sebanyak 450 GB oleh Ransomhouse (lihat gambar 1).
Artikel Lainnya