BSI Lockbit ransomware chat

Alfons Tanujaya • May 23, 2023

Skill negosiasi yang rendah jadi bencana

Analisa Percakapan BSI-Lockbit, Kemampuan Negosiasi yang Rendah (detik.com)

https://finansial.bisnis.com/read/20230516/231/1656482/beredar-potongan-chat-diduga-lockbit-minta-tebusan-rp295-miliar-ke-bsi


Ransomware adalah ancaman yang nyata dan jelas hari ini. Khususnya untuk semua pelaku industri yang ingin memanfaatkan kanal digital untuk memberikan value added bagi layanannya. Kanal digital memberikan efisiensi yang luar biasa bagi semua pelaku industri, termasuk industri perbankan karena mereka tidak perlu lagi membangun cabang fisik yang membutuhkan biaya tinggi untuk bangunan, peralatan pendukung dan sumberdaya di seluruh Indonesia. Dengan memanfaatkan kanal digital maka jangkauan layanan perbankan secara instan akan tersedia di asalkan memiliki jangkauan internet dan hampir semua layanan perbankan dapat diakses dengan layanan perbankan ini, kecuali tarik tunai. Namun, kita tidak bisa mau makan nangka tetapi tidak mau mengurusi getahnya. Jadi kita bisa memanfaatkan kanal digital untuk menyediakan layanan kita, namun jaringan internet yang dimanfaatkan ini adalah jalur umum yang bisa dijangkau siapapun, termasuk orang yang memiliki tujuan jahat dan tentunya jaringan perbankan yang berurusan dengan uang merupakan sasaran utama dari penjahat digital. Karena itulah perhatian utama dan fokus yang besar harus dicurahkan oleh bank yang ingin memanfaatkan digital banking ini.

 

Saat ini, ancaman yang nyata dan paling berbahaya di internet adalah ancaman ransomware dan extortionware yang terbukti memakan korban ratusan perusahaan multinasional dan mengakibatkan kerugian triliunan rupiah. Kemampuan menghadapi ransomware ini harus dimiliki oleh semua pelaku digital karena dalam kenyataannya proteksi terhadap ancaman ransomware seperti antivirus secara nyata tidak dapat  menjamin akan bebas 100 % dari ransomware. Buktinya adalah korban ransomware yang banyak diisi oleh perusahaan besar Fortune 500 yang jelas tidak keurangan dana dan akses terhadap layanan anti malware terbaik yang tersedia.

Karena itu maka diharapkan pelaku ekonomi digital saat ini mempersiapkan dirinya dengan baik menghadapi ransomware seperti disiplin mengupdate patch piranti lunak dan piranti keras, menggunakan antivirus yang terupdate, menerapkan pencegahan anti ransomware seperti Vaksin Protect yang dapat mengembalikan data yang terenkripsi oleh ransomware dengan 1 klik, backup data secara baik dan benar sesuai kepentingan data dan pastikan data backup tidak dapat diakses sekalipun sistem anda berhasil diakses oleh ransomware. Untuk korporasi besar yang memiliki data yang berharga dan sensitif, pertimbangkan menggunakan sistem yang otomatis mengenkripsi data ketika dikopi keluar dari jaringan perusahaan untuk menghindari serangan lanjutan ransomware tingkat 2, extortionware seperti yang dialami oleh BSI.

 

Kemampuan Negosiasi dan Komunikasi Penting

Bernegosiasi dengan penyebar ransomware sebenarnya mirip dengan negosiasi jual beli di toko. Siapa yang lebih membutuhkan dan dalam posisi lebih terpojok akan berada dalam posisi tawar lebih rendah.

Jika anda datang ke toko ingin membeli produk dan terlihat memiliki banyak uang atau pamer, lalu dalam berkomunikasi tidak memiliki etika dan terkesan tidak menghargai lawan bicara. Apakah anda berharap penjual tersebut akan menghargai anda atau memberikan harga terbaik untuk produk yang anda beli ?

Apalagi dalam kasus ransomware, disini ibaratnya penjual adalah pemilik SATU-SATUNYA barang di dunia ini yang anda butuhkan. Tentunya posisi anda sebagai korban ransomware ini dalam posisi lebih lemah. Terlepas dari pelaku ransomware ini melakukan tindakan yang melanggar hukum dengan mengakses dan menyandera data anda yang jika berhasil dilacak oleh penegak hukum jelas akan dikenai tindakan tegas oleh penegak hukum.

Jika anda salah memposisikan diri dan kurang baik dalam bernegosiasi kemungkinan besar harus membayar mahal untuk kegagalan anda dalam bernegosiasi.

Lain ceritanya jika anda sopan dan memberikan penghargaan yang wajar kepada penjual dan membuat hatinya senang dan merasa dihargai, kemungkinan besar anda akan bisa bernegosiasi lebih baik dan mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan anda sombong dan arogan. Bersama ini Vaksincom melakukan analisa atas komunikasi yang dilakukan oleh salah satu korban ransomware dan pelajaran apa yang bisa dipetik.

 

Analisa Chat Lockbit dengan pihak yang diperkirakan perwakilan BSI.

Sebagai catatan, setelah berhasil mengakses sistem, mengenkripsi dan mengunduh data sistem korbannya, pembuat ransomware akan meninggalkan pesan berisi tautan untuk mengakses chat rahasia yang hanya bisa diakses oleh korban ransomware. Dan hasil chat antara negosiator dengan Lockbit dipublikasikan dalam situsnya.

Vaksincom melakukan analisa chat tersebut dan ada beberapa hal yang dapat menjadi pelajaran dalam bernegosiasi sebagai berikut :

  • Profile picture PP menggunakan scan US Dolar.
    Apakah ketidak sengajaan, ketidak tahuan atau mau menyindir administrator Lockbit yang membutuhkan uang. Admin Lockbit dalam hal ini menggunakan PP Anonymous. Tapi kesan yang diberikan adalah ini PP akun gambar US Dolar, aku punya uang. (lihat gambar 1))
Gambar 1, Awal chat dgn Lockbit
  • Komunikasi kurang sopan, tidak memperkenalkan diri. Langsung tembak :
    "give me proof that you have comptomised us".
    Bahkan pihak peretas yang malah lebih sopan menyapa dengan : "Hello".
    Kelihatannya pihak negosiator kurang diajari sopan santun oleh orang tuanya untuk selalu sopan dalam berkomunikasi dan kurang menyadari kalau posisinya disini lebih lemah.
    Jika anda dalam posisi admin Lockbit ini tentunya sudah menimbulkan rasa tidak suka kepada lawan chat anda. Pertama sudah pakai PP US dolar, artinya ini orang punya banyak uang nih, PP saja US Dolar. Oke, kalau begitu aku peras sebesar mungkin. Mana nada bicaranya seperti ini, sudah kebobolan datanya bukannya sopan malah sok sekali.
    Harusnya, ketika memulai chat, sapa dulu lawan bicara, gunakan sopan santun, siapa aku, lalu ceritakan sedikit latar belakang diri, buat suasana nyaman untuk bernegosiasi, timbulkan empati. Misalnya aku adalah pemilik komputer yang terkena retas dan karena kecerobohanku tempat kerja aku jadi kacau, sekarang aku dalam tekanan besar harus mempertanggungjawabkan perbuatanku. Apakah kamu bisa membantu ?
  • Gaya bahasa menggurui dan bertindak seperti atasan yang biasa memberikan perintah. (lihat gambar 2)
    Dalam chat terlihat bahwa kalimat yang dipilih mencerminkan pihak korban kurang mengerti posisinya lebih lemah dan ingin menunjukkan seolah-olah dirinya yang berkuasa atau bos. Telihat dari kalimat yang merendahkan :

    "you dont even know who's data you have stolen"
    "show me that customer data you think you hv stole it"

    Jika kita dalam posisi lebih lemah, adalah bodoh jika menempatkan posisi sebagai atasan. Berikan sedikit penghargaan kepada lawan negosiasi guna mendapatkan empati jika ingin mendapatkan hasil akhir negosiasi yang baik.
    Kalau Lockbitnya marah dia juga bisa menuding : aku berhasil mencuri datamu karena "kamu bodoh". Tetapi hal ini tidak dilakukan dan malah terlihat santai saja menghadapi gaya komunikasi yang sok perintah ini.

Gambar 2, Gaya bahasa arogan, memerintah seperti atasan.
  • Dalam kasus ransomware, harusnya ketika korban mengetahui menjadi korban langsung melakukan pemeriksaan data apa saja yang dicuri. Pembuat ransomware apalagi sekelas Lockbit jelas tidak akan mengeluarkan ancaman kalau belum memegang semua kartu truf yang dibutuhkan.
    Ketika menanyakan harga, harusnya negosiator juga memperhitungkan berapa kerugian reputasi, nama baik dan kepercayaan yang akan terjadi jika kasus ini terungkap ke publik dan harus bernegosiasi dengan piawai. Lockbit sudah melakukan riset dan mengetahui bahwa bank ini adalah bank dengan keuntungan milyaran dolar (lihat gambar 3).

Gambar 3, Lockbit sudah melakukan pekerjaan rumahnya mengetahui SWOT korbannya, hal ini seharusnya dilakukan juga oleh korban.

Seperti kita ketahui, akhir cerita dari Lockbit ini dimana data yang berhasil dicuri kemudian disebarkan dan dapat diunduh oleh banyak pihak. Dalam hal ini korban peretasan mengalami kerugian reputasi, runtuhnya kepercayaan nasabah dan nasabahnya mengalami penderitaan besar karena datanya yang dipercayakan ke bank tidak dijaga dengan baik dan disebarkan sehingga terbuka menjadi korban eksploitasi. Kompetitor perusahaan tentunya bersorak sorai bisa mendapatkan data intelligence gratis.

 

Lalu apakah semua kasus ransomware ini berakhir buruk ?

Apakah masih ada gunanya sopan santun dan komunikasi yang baik dalam berkomunikasi dan melakukan negosiasi ?

 

Jawabannya ada.

 

Berikut ini adalah salah satu ransomware yang berhasil mengenkripsi data server korbannya yang merupakan organisasi nirlaba. Berbekal pendekatan, komunikasi yang baik dan sopan, akhirnya pembuat ransomware berbaik hati memberikan kunci dekripsi kepada korban ransomware. Dan bahkan memberikan tips mengamankan datanya.

Gambar 4, Negosiasi yg baik dan sopan akan mendapatkan hasil yang baik



Salam,
Alfons Tanujaya

[email protected]


PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini

Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800


Website : http://www.vaksin.com
Fanpage :
www.facebook.com/vaksincom

Youtube :  https://www.youtube.com/@alfonstan3090
Twitter : @vaksincom

Vaksincom Security Blog

By Alfons Tanujaya August 13, 2026
Seorang warganet membagikan pengalamannya di media sosial: ia login WhatsApp di laptop miliknya sendiri, dan semula tidak ada yang aneh. Namun tak lama kemudian ia menemukan riwayat chat baru yang terkirim dari akunnya sendiri ke sejumlah nomor asing, berisi promosi judi online. Yang lebih janggal, pesan itu tidak bisa dihapus dengan opsi “Delete for Everyone”, dan sama sekali tidak muncul di riwayat WhatsApp pada ponselnya. Ia sudah mengaktifkan verifikasi dua langkah dan memeriksa Perangkat Tertaut, namun keduanya bersih — tidak ada perangkat asing yang tertaut ke akunnya. Kejadian ini pada awalnya terlihat seperti kasus pembajakan akun biasa. Namun penelusuran lebih lanjut mengarah ke penyebab yang berbeda dari dugaan umum selama ini, yaitu bukan linked device asing, melainkan ekstensi peramban (browser extension) yang terpasang di komputer korban sendiri. 131 Ekstensi Chrome Terbukti Membajak WhatsApp Web Perusahaan keamanan siber Socket.dev pada Oktober 2025 mempublikasikan riset yang mengungkap 131 ekstensi Chrome yang menyamar sebagai tools “CRM WhatsApp” atau “otomasi WhatsApp” untuk kebutuhan bisnis. Alih-alih sekadar membantu manajemen kontak, ekstensi-ekstensi ini terbukti menyuntikkan skrip langsung ke halaman web.whatsapp.com untuk mengirim pesan massal secara otomatis. Google kemudian menghapus seluruh ekstensi tersebut dari Chrome Web Store, namun tercatat lebih dari 20.000 pengguna aktif sempat terdampak sejak ekstensi-ekstensi ini beredar pada awal 2025. Secara teknis, ekstensi-ekstensi ini memanfaatkan fungsi internal yang dipakai WhatsApp Web sendiri untuk mengatur pengiriman pesan, dikombinasikan dengan Manifest V3 service worker agar pengiriman bisa tetap berjalan terjadwal di latar belakang. Nama-nama ekstensi ini sengaja dibuat menyerupai tools bisnis yang sah, dan mayoritas ternyata diterbitkan oleh publisher yang sama meski memakai nama dan tampilan berbeda-beda — mengindikasikan model reseller/white-label, bukan operasi satu pihak. Perlu digarisbawahi, kasus yang didokumentasikan Socket.dev ini berbasis di Brasil dan menyasar spam bisnis pada umumnya, bukan judi online secara spesifik. Namun teknik yang sama — ekstensi peramban yang menyusup ke sesi WhatsApp Web — sangat mungkin direplikasi oleh operator lain, termasuk untuk distribusi spam judi online di Indonesia, sebagaimana pola yang ditemukan pada kasus di atas. Kenapa Pesan Tidak Pernah Muncul di HP Pemilik Akun Sejak WhatsApp memperbarui sistem multi-device agar tidak lagi bergantung pada ponsel utama yang harus selalu aktif, Meta mengadopsi model yang dikenal sebagai client-fanout. Dalam model ini, setiap perangkat tertaut — termasuk WhatsApp Web atau Desktop — diperlakukan sebagai perangkat independen dengan kunci enkripsi end-to-end miliknya sendiri. Ketika sebuah pesan dikirim dari WhatsApp Web, aplikasi web itulah (disebut sebagai client) yang bertanggung jawab mengenkripsi dan “membagi” (fanout) paket pesan tersebut ke dua tujuan: perangkat penerima pesan, dan perangkat milik pengirim sendiri termasuk ponsel utama, sebagai salinan untuk keperluan sinkronisasi (self-sync). Di titik inilah celahnya. Karena proses enkripsi terjadi di tingkat client, server WhatsApp pada dasarnya hanya berfungsi sebagai perantara (relay) bagi paket data yang sudah terenkripsi, dan tidak dapat membaca isi maupun memverifikasi kelengkapan pengiriman tersebut. Ekstensi peramban yang jahat, karena menguasai penuh logika JavaScript pada halaman WhatsApp Web, dapat dengan sengaja hanya mengirimkan salinan pesan ke penerima spam, sembari memotong (bypass) proses pengiriman salinan ke ponsel pemilik akun. Hasilnya, server WhatsApp tetap memproses pesan tersebut sebagai pengiriman yang sah ke penerima, namun karena tidak ada salinan yang pernah dibuat untuk ponsel pemilik akun, pesan tersebut tidak akan pernah tercatat di riwayat chat pemilik akun. Siapa yang Memasang Ekstensi Semacam Ini Pengguna kerap tidak menyadari bahwa ekstensi CRM, WhatsApp Marketing, atau broadcast tool yang mereka unduh demi fitur otomatisasi sebenarnya membawa fungsi tersembunyi semacam ini. Ekstensi tetap berjalan normal untuk fungsi CRM yang dijanjikan, namun di balik layar turut memakai sesi WhatsApp Web milik pengguna untuk mengirim spam ke nomor acak. Pola ini juga tidak selalu melibatkan jaringan spam profesional. Kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan adalah pihak terdekat — pasangan atau anggota keluarga yang menggunakan komputer bersama, dan memasang ekstensi semacam ini dengan niat memantau percakapan, tanpa menyadari bahwa tools yang mereka pasang juga terhubung ke jaringan spam di baliknya. Pentingnya Diluruskan: Menghapus Sesi atau Mengganti PIN Tidak Cukup Pada kasus yang melibatkan ekstensi peramban seperti ini, menghapus sesi pada Perangkat Tertaut maupun mengganti PIN verifikasi dua langkah tidak banyak membantu, karena akar masalahnya bukan pada autentikasi akun WhatsApp, melainkan pada ekstensi yang tetap terpasang di peramban. Begitu pengguna login ulang WhatsApp Web pada peramban yang sama, ekstensi tersebut dapat langsung menyusup ke sesi baru yang terbentuk. Satu-satunya cara efektif untuk menghentikan penyalahgunaan ini adalah menghapus ekstensi bermasalah melalui chrome://extensions/, atau bila masih ragu, menghapus instalasi peramban tersebut secara total dan menggantinya dengan profil atau peramban yang bersih. Risiko ini juga tidak terbatas pada Google Chrome semata, karena seluruh peramban berbasis Chromium seperti Microsoft Edge, Brave, dan Opera mendukung instalasi ekstensi yang sama, dan berlaku di seluruh sistem operasi — Windows, macOS, maupun Linux — karena serangan ini bekerja di tingkat peramban, bukan di tingkat sistem operasi. Sebagai langkah pencegahan tambahan, pengguna WhatsApp disarankan untuk memeriksa daftar ekstensi yang terpasang di peramban secara berkala, terutama yang mengklaim sebagai tools CRM atau otomasi WhatsApp, serta menjaga agar ponsel tidak diakses maupun dipindai kode QR-nya oleh pihak lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Vaksincom akan terus memantau perkembangan modus ini dan membuka ruang bagi pengguna yang mengalami kejadian serupa untuk berbagi kronologi, guna memetakan pola penyalahgunaan secara lebih akurat.
By Alfons Tanujaya July 27, 2026
Celah HermeticReader (CVE-2026-48294) menempel di ekstensi yang terpasang pada sekitar 329 juta browser. Sudah ditambal Adobe, tetapi belum tentu sudah sampai ke perangkat anda. Belakangan ini banyak sekali keluhan akun WhatsApp yang tiba-tiba dibatasi, logout sendiri, atau diblokir dengan pesan bahwa akun tersebut melanggar ketentuan layanan. Sebagian pemilik akun mengajukan tinjauan, akunnya pulih sebentar, lalu diblokir lagi dengan peringatan yang sama. Penyebab pemblokiran akun WhatsApp itu banyak dan tidak tunggal. Yang paling sering adalah broadcast berlebihan, penggunaan aplikasi WhatsApp tidak resmi (WhatsApp mod), pengiriman pesan ke nomor yang tidak menyimpan kontak anda dalam jumlah besar, serta laporan dari penerima pesan. Semua itu murni urusan kebijakan Meta. Namun ada satu jalur yang jarang sekali dibahas dan baru terungkap bulan ini: ekstensi browser. Sebuah celah keamanan di ekstensi Adobe Acrobat PDF untuk Chrome membuat sebuah situs jahat bisa membaca isi WhatsApp Web anda, bahkan berpotensi mengambil alih akun anda sepenuhnya. Celah ini diberi nama HermeticReader dan tercatat sebagai CVE-2026-48294. Kronologi singkat 30 April 2026 — Adobe mengumumkan integrasi Acrobat dengan WhatsApp Web, yang memungkinkan pengguna mengolah file PDF langsung dari WhatsApp Web. 3 Juni 2026 — Adobe merilis ekstensi versi 26.5.2.1 yang membawa mesin integrasi tersebut. Dalam waktu kurang dari 4 jam, tim riset Guardio Labs sudah menemukan rantai celahnya. Akhir pekan yang sama — Guardio melapor ke Adobe PSIRT. Adobe menerima laporan, memperbaiki, dan merilis versi tambalan 26.5.2.3 dalam satu akhir pekan. Ini respons yang sangat cepat dan patut diapresiasi. 17 Juni 2026 — CVE-2026-48294 dipublikasikan ke National Vulnerability Database (NVD) dengan skor CVSS 7,4. 22 Juli 2026 — Guardio Labs mempublikasikan rincian teknis lengkapnya, diikuti pemberitaan media keamanan siber internasional. Bagaimana celah ini bekerja Yang bermasalah bukan aplikasi Adobe Acrobat Reader di komputer anda, melainkan ekstensi Adobe Acrobat PDF di browser (ID ekstensi: efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj). Ini perlu ditegaskan supaya tidak salah sasaran. Rantai serangannya sederhana tetapi berlapis. Ekstensi Adobe menyediakan beberapa halaman internal yang boleh dimuat oleh situs mana pun sebagai iframe. Halaman-halaman itu membaca data JSON langsung dari URL, lalu meneruskannya ke service worker ekstensi. Celakanya, service worker tidak pernah memeriksa siapa pengirim pesan tersebut, dan tidak ada pembatasan kunci apa saja yang boleh ditulis ke penyimpanan lokal ekstensi. Akibatnya, situs jahat bisa menulis flag ke penyimpanan ekstensi untuk mengaktifkan Hermes, yaitu mesin integrasi Acrobat dengan WhatsApp Web yang secara default tidak aktif. Setelah Hermes aktif, penyerang tinggal menebak nomor tab WhatsApp Web (karena Chrome memberi nomor tab secara berurutan) lalu mengirim perintah ke tab tersebut. Yang membuat celah ini serius adalah perintah-perintah yang tersedia setelah Hermes aktif. Perintah tersebut memungkinkan penyisipan HTML dan pemanggilan method apa pun pada elemen halaman WhatsApp Web tanpa daftar izin. Dari situ, peneliti mendemonstrasikan dua hal: Eksfiltrasi data. Peneliti menyisipkan form tersembunyi ke halaman WhatsApp Web, memindahkan seluruh isi halaman yang sedang tampil ke dalam form itu, lalu mengirimkannya ke server penyerang. Yang keluar adalah daftar chat, nama kontak, nama profil, dan teks percakapan yang sedang terbuka — dalam bentuk teks terbaca, bukan terenkripsi. Penukaran QR login. Peneliti juga menunjukkan bahwa QR code untuk menautkan perangkat di WhatsApp Web bisa ditukar dengan QR milik penyerang. Bila pengguna men-scan QR palsu itu saat menautkan perangkat, sesi penyerang yang justru terpasang ke akun korban. Inilah yang disebut pengambilalihan akun penuh. Yang perlu digarisbawahi Serangan ini tidak memerlukan malware, tidak memerlukan password anda, tidak mencuri cookie sesi, dan bukan celah di WhatsApp. Penyerang juga tidak perlu akun Adobe. Syaratnya cuma satu: anda membuka halaman web milik penyerang sementara ekstensi versi rentan terpasang. Catatan penting Peramban yang rentan adalah Chrome dan turunan Chromium. Jadi Microsoft Edge juga rentan terhadap eksploitasi ini karena menggunakan mesin Chromium yang sama dan mendukung ekstensi Chrome. Jika tidak membutuhkan ekstensi Adobe Acrobat, uninstall saja. Hindari menginstal ekstensi apa pun yang tidak benar-benar diperlukan di browser. Logikanya sederhana: makin sedikit aplikasi dan ekstensi terinstal, makin sedikit pintu masuk yang harus anda jaga. Jika membutuhkan akses WhatsApp di perangkat lain, prioritaskan aplikasi resmi non-browser: WhatsApp for Windows atau WhatsApp for Mac. Dengan begitu WhatsApp anda tidak ikut terdampak celah keamanan aplikasi lain yang kebetulan menumpang di browser yang sama. Bahaya jika WhatsApp Web anda diambil alih Peretas bisa bertindak seolah-olah anda: membaca chat, membalas pesan, mengirim file, dan melanjutkan percakapan yang sudah terbuka untuk menipu kontak anda. Informasi percakapan pribadi, grup, nama kontak, nomor telepon, foto profil, file media, dokumen, data kerja, informasi bisnis, negosiasi invoice, dan informasi sensitif lain bisa diakses oleh peretas. Mengirimkan file berbahaya ke kontak dan grup WhatsApp anda. Melakukan social engineering yang jauh lebih efektif, karena pesan datang dari nomor anda yang sudah dikenal — bukan dalam bentuk pemalsuan foto profil dengan nomor yang berbeda. Inilah yang membuat penipuan model ini sangat sulit dideteksi korban. Mengambil alih akun lain yang menggunakan WhatsApp sebagai sarana verifikasi. Kode OTP yang masuk ke WhatsApp ikut terbaca. Antisipasi / apa yang harus dilakukan Buka [Settings] > [Linked Devices] untuk memastikan hanya perangkat yang anda kenal yang bisa membuka dan mengakses WhatsApp. Jika ada perangkat yang tidak dikenal, segera putuskan. Lakukan ini secara rutin, bukan sekali saja. Pastikan anda disiplin melakukan update OS, aplikasi, dan ekstensi. Untuk ekstensi Adobe Acrobat PDF, yang rentan adalah versi 26.5.2.2 dan sebelumnya; versi aman adalah 26.5.2.3 ke atas. Periksa lewat chrome://extensions atau edge://extensions. Usahakan menggunakan browser khusus yang terpisah untuk WhatsApp Web, atau lebih baik lagi gunakan aplikasi WhatsApp resmi untuk OS yang anda gunakan. Untuk organisasi: lakukan inventarisasi ekstensi browser yang terpasang di lingkungan kerja. Ekstensi dengan izin akses ke seluruh situs perlu diprioritaskan untuk ditinjau, dan ekstensi yang tidak dikelola sebaiknya dibatasi lewat kebijakan grup. Catatan Vaksincom: soal gelombang pemblokiran akun WhatsApp Banyak yang bertanya apakah gelombang pemblokiran akun WhatsApp belakangan ini disebabkan oleh celah Adobe Acrobat ini. Vaksincom perlu bersikap jujur: sampai artikel ini ditulis, kaitan sebab-akibat itu belum terbukti. Ada dua alasan. Pertama, dari sisi waktu, jendela kerentanan yang benar-benar terbuka hanya berlangsung beberapa hari di awal Juni 2026 sebelum Adobe menambalnya, sementara gelombang keluhan pemblokiran ramai terjadi jauh setelah itu. Kedua, Guardio Labs selaku penemu celah menyatakan tidak menemukan indikasi eksploitasi aktif di lapangan sebelum tambalan dirilis. Meski begitu, tambalan yang tersedia tidak sama dengan tambalan yang sudah sampai ke semua perangkat. Chrome memang memperbarui ekstensi secara otomatis di latar belakang, tetapi perangkat yang jarang dinyalakan atau browser yang versinya dikunci oleh kebijakan IT perusahaan bisa saja tertinggal. Karena itu pemeriksaan versi tetap wajib dilakukan. Kesimpulannya: perlakukan dua hal ini sebagai isu terpisah. Celah HermeticReader adalah risiko nyata yang harus ditutup. Gelombang pemblokiran akun WhatsApp adalah persoalan tersendiri yang penyebabnya paling mungkin adalah penegakan kebijakan anti-spam Meta. Bila anda mengalami pemblokiran berulang, periksa dulu pola pengiriman pesan dan aplikasi WhatsApp yang anda gunakan. Pelajaran yang lebih besar Celah ini tidak lahir dari teknik eksploitasi yang canggih. Ia lahir dari sekumpulan jalan pintas biasa di bagian yang jarang diperiksa orang: cara komponen ekstensi saling berkirim pesan, cara data disimpan, dan cara flag fitur dievaluasi. Masing-masing tampak wajar bila dilihat sendiri-sendiri, tetapi ketika digabung menjadi rantai yang berbahaya. Pertanyaan yang layak diajukan setiap pengguna: berapa banyak ekstensi 'biasa saja' dengan izin besar yang anda percayai, semata-mata karena belum pernah ada alasan untuk memeriksanya? salam, Alfons Tanujaya
By Alfons Tanujaya March 5, 2026
Banyak analis global menyebut data sebagai “the new oil”. Bukan tanpa alasan. Di era digital, data telah menjadi komoditas ekonomi paling strategis di muka bumi. Namun sering muncul pertanyaan sederhana: jika data begitu berharga, mengapa kita yang memiliki banyak data di komputer atau ponsel tidak otomatis menjadi kaya? Jawabannya sederhana. Memiliki data tidak sama dengan mampu mengolahnya. Ini ibarat seseorang memiliki tanah yang mengandung minyak bumi. Ia tidak serta-merta menjadi kaya raya. Minyak itu harus dieksplorasi, dibor, dimurnikan, lalu didistribusikan sebelum memiliki nilai ekonomi. Data pun demikian. Di tangan pihak yang mampu mengolahnya dengan teknologi dan analitik yang tepat, data berubah menjadi nilai ekonomi luar biasa. Perusahaan teknologi global seperti Meta, Microsoft, Alphabet Inc., Amazon, TikTok, hingga platform digital nasional seperti Tokopedia dan Gojek memanfaatkan data untuk menciptakan layanan yang semakin presisi dan bernilai tinggi. Dalam bentuk yang lebih kompleks, kumpulan data dalam skala besar (big data) yang diolah dengan kecerdasan buatan telah menjadi fondasi perkembangan Artificial Intelligence (AI). Data kini bukan hanya mendukung layanan digital, tetapi menjadi “tambang emas” bagi inovasi generasi berikutnya. Namun, di tangan yang tidak memahami cara mengelola dan melindunginya, data justru bisa menjadi beban — bahkan menjadi sumber bencana. Pengelolaan Data: Antara Berkah dan Amanah Karena data sangat bernilai, ia juga sangat rentan disalahgunakan. Data kependudukan, data pelanggan, rekam medis, data transaksi keuangan — semuanya memiliki konsekuensi serius jika bocor. Pengelolaan data bukan lagi sekadar praktik teknis, tetapi kewajiban hukum. Sejak disahkannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, setiap pengendali dan pemroses data di Indonesia memiliki tanggung jawab yang jelas, termasuk kewajiban menjaga keamanan dan kerahasiaan data. Kunci pengelolaan data sebenarnya sederhana: disiplin menjalankan standar . Standar internasional seperti ISO/IEC 27001 memberikan kerangka kerja sistem manajemen keamanan informasi. Di sektor kesehatan terdapat HIPAA, dan di sektor pembayaran ada PCI DSS. Namun penting dipahami: standar bukanlah jaminan kebal bocor. Sertifikasi bukan tameng sakti. Yang melindungi data bukanlah kertas sertifikat, melainkan praktik pengendalian risiko yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Mengelola data ibarat pernikahan. Sekali Anda berkomitmen mengelola data, Anda terikat untuk menjaganya selama data itu masih ada dan digunakan. Ini bukan komitmen sesaat. Ia juga seperti diet. Semua orang tahu teorinya, tetapi konsistensi jangka panjanglah yang menentukan hasil. Banyak organisasi awalnya disiplin, namun seiring waktu standar dilonggarkan, pengawasan melemah, dan kebiasaan lama kembali muncul. Di titik inilah risiko kebocoran meningkat. Perbedaan besar terletak pada cara memandang data: apakah sebagai “berkah” untuk dimonetisasi sebesar-besarnya, atau sebagai “amanah” yang harus dijaga sebaik mungkin? Data Bocor dan Ban Bocor Jika ban kendaraan bocor, kita bisa menambalnya dan masalah selesai. Tetapi data tidak demikian. Ada prinsip yang sering disebut dalam dunia siber: Once on the internet, always on the internet. Data mungkin bisa dihapus dari sumber aslinya, tetapi jika sudah disalin dan didistribusikan pihak lain, kita tidak lagi memiliki kendali penuh atasnya. Sekali data pribadi bocor dan beredar, dampaknya bisa bertahun-tahun. Data kependudukan yang tersebar dapat digunakan untuk: registrasi kartu prabayar secara ilegal pembukaan rekening penampung dana kejahatan rekayasa sosial untuk mengambil alih akun digital penipuan berbasis identitas Inilah sebabnya model autentikasi global mulai bergeser. Sistem yang dulu hanya mengandalkan “apa yang Anda tahu” (misalnya NIK, tanggal lahir) kini beralih ke kombinasi “apa yang Anda miliki” (device, OTP) dan “siapa Anda” (biometrik). Kebocoran data mengubah paradigma keamanan secara fundamental. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Di era regulasi modern, kegagalan melindungi data bukan sekadar persoalan reputasi. Di bawah UU Perlindungan Data Pribadi, pengendali data dapat dikenakan sanksi administratif, denda, hingga pidana jika terbukti lalai. Namun konsekuensi terberat justru ditanggung oleh pemilik data. Pengelola data mungkin hanya mengalami reputasi yang tercoreng. Pemilik data bisa kehilangan tabungan, identitas, bahkan masa depan finansialnya. Karena itu, pengelolaan data bukan hanya kewajiban teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Melindungi Aset Digital Masyarakat perlu memahami bahwa data digital — kredensial akun, email, akses mobile banking — adalah aset ekonomi. Beberapa langkah dasar yang perlu dilakukan: Gunakan autentikasi dua faktor. Jangan membagikan OTP kepada siapa pun. Waspadai rekayasa sosial yang mengatasnamakan aparat, petugas pajak, atau bank. Gunakan kata sandi unik untuk setiap layanan. Segera ganti kredensial jika ada indikasi kebocoran. Bagi pengelola data, komitmen harus lebih tinggi: Terapkan kontrol akses berbasis kebutuhan. Enkripsi data sensitif. Audit keamanan secara berkala. Lakukan pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan. Siapkan rencana respons insiden. Dan yang paling penting: pahami bahwa keamanan bukan kondisi statis. Ancaman terus berkembang. Hari ini aman bukan berarti besok tetap aman. Penutup Di era digital, data bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah amanah. Nilainya bisa menjadi emas digital yang menciptakan inovasi dan kemakmuran. Tetapi jika lalai dikelola, ia berubah menjadi sumber kerugian yang luas dan berkepanjangan. Pertanyaannya bukan lagi apakah data itu berharga. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup disiplin dan bertanggung jawab untuk menjaganya? Karena dalam dunia digital, kepercayaan dibangun dari keamanan. Dan keamanan lahir dari komitmen yang tidak pernah berhenti.
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya July 21, 2025
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya December 25, 2024
Bulan Desember tahun 2024 ditutup dengan pengumuman Ransomware Bashe yang pada pertengahan Desember mengklaim salah satu bank BUMN yang masuk dalam jajaran 5 besar mengalami kebocoran data dan memberikan waktu sampai 23 Desember 2024 untuk membayar uang tebusan 5 bitcoin atau sekitar Rp. 7,6 milyar rupiah atau data tersebut dijual ke pihak ketiga. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya November 25, 2024
Menyambut penutupan tahun 2024, Vaksincom kembali mengadakan event akhir tahun Evaluasi Malware 2024 dan Trend 2025. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini diadakan dalam bentuk Seminar Outing seperti yang pernah diadakan Vaksincom di tahun 2008. Seminar Outing ini akan diadakan dua hari pada awal Desember 2024 di Pengalengan Bandung dan peserta seminar yang umumnya pegiat IT dan admin yang sehari-hari melakukan aktivitasnya dari belakang meja kini akan mendapatkan lingkungan yang berbeda dalam bentuk Outing mengarungi Jeram di Pengalengan Bandung. Selain evaluasi Malware 2024, peserta seminar juga akan mendapatkan informasi tambahan bagaimana mengamankan jaringan dan data yang dikelolanya dari ancaman Ransomware dimana Vaksincom akan meluncurkan VaksinSIEM (Security Information and Event Management) dimana termasuk ke dalamnya Vaksin Protect yang akan dapat mengembalikan data sekalipun berhasil dienkripsi oleh ransomware hanya dengan 1 kali klik tanpa tergantung pada Backup. Peserta baru yang belum menggunakan layanan Vaksincom akan mendapatkan produk andalan Vaksincom Webroot Endpoint Protection untuk melindungi 50 nodes komputer (Windows Workstation / Server dan Mac OS) yang akan dapat digunakan secara full untuk 90 hari. Bonus tambahan akan diberikan kepada seluruh peserta seminar berupa training pengamanan akun digital Call Paman Onetime (True Caller, Password Manager dan aktivasi One Time Password) dimana seluruh peserta seminar akan dibantu langsung oleh teknisi Vaksincom menginstal dan mengimplementasikan aplikasi True Caller, Password Manager dan Aktivasi Two Factor Authentication untuk semua akun penting anda seperti email (Gmail, Yahoo etc) tanpa tambahan biaya apapun alias Gratis. Adapun Seminar Outing tersebut akan diadakan dengan informasi detail sebagai berikut : Seminar Outing Vaksincom 2024 Tema : Evaluasi Malware Indonesia 2024 dan Trend Malware 2025 Waktu : 6 - 7 Desember 2024 Lokasi : Bandung (Rafting Pengalengan dan penginapan hotel Meize City Center Jl. Sumbawa - Bandung) Fasilitas yang disediakan : - Transportasi PP Jakarta - Bandung - Jakarta berangkat dari dari PT. Vaksincom Jl. R. P. Soeroso 7AA, Jakarta 10330 - Penginapan di Hotel Meize City Center sharing 1 kamar 2 orang. - Konsumsi selama event. - Rafting dan peralatan pengaman rafting serta instruktur yang berpengalaman. - Dokumentasi. - Wisata di Bandung. Biaya Seminar sudah termasuk GRATIS : - Sertifikat Seminar - Lisensi Webroot Endpoint Protection Business untuk 50 Nodes selama 90 hari untuk Windows workstation / server dan Mac OS. - VaksinSIEM untuk 1 (satu) nodes beserta Security Hardening dari Vaksincom selama 90 hari. - Aplikasi Password Manager Full Version automatic sync antara Android, iOS, Windows OS, Browser dan Mac OS. Biaya : - Customer Vaksincom Rp. 1.250.000,- (tidak termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Business 50 nodes) - Umum Rp. 1.950.000,- (termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Busienss 50 nodes) Pendaftaran : Hubungi email [email protected] atau Whatsapp 0897-8696-122 dgn ibu Ami I
Artikel Lainnya