Malware Indonesia Q3 2018

Alfons Tanujaya • September 5, 2018

Serangan malware Metamorphic

Mereka yang bekerja antara tahun 1990 dan 2018 memiliki hak untuk menarik Rp. 21 juta dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Cari tahu apakah anda termasuk dalam daftar orang-orang yang memiliki hak untuk menarik dana ini:

https://mobr.info/bpjs

 465 medali emas diperebutkan oleh 11.646 atlit terbaik dari 45 negara di seluruh Asia pada Asian Games 2018. Perolehan medali emas dari 4 negara teratas China, Jepang, Korea Selatan dan Indonesia mencapai 287 medali atau 62 % dari seluruh medali yang diperebutkan. Hal yang mirip terjadi pada insiden malware pada kuartal 3 di tahun 2018 di Indonesia. 4 kategori malware seperti Malware generik, Adware, Trojan dan Worm menguasai lebih dari 90 % insiden malware di Indonesia. (lihat gambar 1)

Statistik serangan malware Indonesia Q3 2018

Tidak berbeda jauh dari periode sebelumnya, statistik malware pada kuartal 3 tahun 2018 tidak mengalami banyak pergeseran dimana malware dengan kategori Adware, Trojan, Malware generik dan Worm menguasai lebih dari 90 % insiden malware di Indonesia. Sisanya tercatat PUA Potentially Unwanted Application (sejenis Adware) dan Miner yang marak menjalankan aksinya guna menambang uang kripto secara ilegal menggunakan perangkat keras yang diinfeksinya. Satu hal yang perlu menjadi catatan adalah maraknya malware kategori generik pada kategori Adware, Trojan dan Malware generik menunjukkan makin pintar dan cepatnya malware membuat varian baru dan mereplikasi dirinya sehingga makin sulit terdeteksi oleh program antivirus. Sebagai contoh ransomware dan malware penyerang internet banking akan melakukan penyerangan bergeombang dan mengandalkan malware generik baru dan tidak terdeteksi dalam setiap gelombang serangannya karena menggunakan malware yang lama dan terdeteksi oleh antivirus tidak akan efektif dan sama saja dengan usaha yang sia-sia. Hal ini dilakukan untuk mengeksploitasi kelemahan program antivirus tradisional yang mengandalkan update definisi dimana ada rentang waktu 7 – 14 hari dari malware baru pertama kali diluncurkan sampai terdeteksi oleh program antivirus di komputer klien. Karena itu diperlukan terobosan untuk mengantisipasi hal ini.

Pada kategori Adware, Adware generik menguasai persentase Adware dengan dominasi pada 77,97 % insiden diikuti oleh Installcore sebanyak 10.85 %, Driverpack 4,05 % dan Elex 1,77 %. (lihat gambar 2)

Adware Installcore yang sering menumpang / menyaru sebagai program bajakan yang populer

Sedangkan sisanya 5,32 % merupakan jenis adware lain yang sangat banyak variannya seperti optimuminstaller, funmoods, fireball, opencandy, wajam dan dealply. (lihat gambar 3)

Adware generik mendominasi penyebaran adware diikuti oleh Installcore, Driverpack dan Elex

Setelah Adware, pada posisi nomor 2 ditempati oleh malware generik dan ramnit generik yang menguasai 31,23 % insiden. Disebut sebagai generik karena malware ini sebelumnya tidak pernah terdeteksi, namun sebenarnya malware ini adalah turunan malware Ramnit dan malware lain yang telah ada sebelumnya.

Pada posisi nomor 3 yang pada Asian Games 2018 ditempati oleh Korea Selatan, malware kategori Trojan menarik perhatian karena menguasai 21,81 % insiden malware. Hal yang cukup menarik adalah banyak varian yang berkaitan erat dengan penyebaran ransomware. Dalam kategori ini kembali Trojan generik menguasai mayoritas penyebaran trojan sebesar 58,49 % infeksi trojan yang dihentikan oleh Webroot di Indonesia. Disusul oleh Hacktool yang banyak digunakan dalam piranti lunak bajakan kemudian trojan Chydo, Rogue, Downloader dan Dropper. (lihat gambar 4)

Trojan generik tetap mendominasi penyebaran Trojan di Q3 2018

Kesimpulan

Meskipun penyebaran malware dikuasai oleh 4 kategori besar malware di kuartal 3 2018. Namun satu hal yang menarik perhatian adalah mayoritas malware yang mendominasi bersifat generik atau dengan kata lain tidak pernah terdeteksi sebelumnya, meskipun sebenarnya merupakan turunan dari malware yang sudah ada. (lihat gambar 5 dan 6)

Malware generik yang mampu mengubah identitas dirinya setiap kali melakukan infeksi ulang.

Hal ini terjadi karena kecanggihan pembuat malware yang mampu membuat malware baru dari malware yang sudah ada dengan berbagai teknik seperti teknik kompilasi yang berbeda akan menghasilkan malware yang unik dan mampu mengelabui deteksi antivirus. Teknik yang populer digunakan adalah teknik polymorphic dan metamorphic. Polymorphic malware adalah jenis malware yang mampu mengubah ukuran dan identitas dirinya (MD5). Biasanya malware ini terbagi dalam 2 bagian dimana salah satu bagiannya akan berubah-ubah dan bagian yang lain akan tetap sehingga membuat beberapa program antivirus mampu mengidentifikasi malware ini dengan mengidentifikasi bagian yang tidak berubah. Namun, berbeda dengan polymorphic malware, metamorphic malware mampu mengubah dirinya secara total dan menulis ulang dirinya setiap kali melakukan replikasi. Makin lama malware ini berdiam di komputer yang di infeksinya makin banyak versi replikasi yang dibuat dan makin rumit infeksi yang akan terjadi. Teknologi yang digunakan malware metamorphic sangat kompleks dan rumit dan membuatnya jauh lebih sulit di deteksi dibandingkan malware polymorphic. Beberapa teknologi yang digunakan oleh malware metamorphic adalah penamaan ulang registri, permutasi kode program, ekspansi kode program, penyusutan kode program dan injeksi kode sampah yang hasil akhirnya akan membuat malware yang unik setiap kali direplikasi.

Kemampuan monitoring proses dan rollback sangat berguna menghadapi malware polymorphic dan metamorphic.

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

Banner Hari Patch Sedunia: celah PHP2Shell CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 pada PHP, daftar vers
By Alfons Tanujaya • October 23, 2026
PHP2Shell, dua celah kritis skor 9,2 di inti PHP, membuat server bisa diambil alih tanpa login. Cek versi PHP yang rentan, versi aman, dan alasan server di-takedown.
Kunci CA eMudhra bocor: Edge menolak sertifikat situs uji dengan peringatan NET::ERR_CERT_REVOKED
By Alfons Tanujaya • October 22, 2026
Delapan kunci privat CA eMudhra bocor dan bisa dihitung ulang siapa saja. Situs bank palsu bisa tampil dengan gembok. Ini risikonya dan yang harus Anda lakukan.
Situs BNI palsu berumur 4 jam meminta OTP pembatalan, jejak penipunya sejak April 2025
By Alfons Tanujaya • October 19, 2026
Penipu mengaku CS BNI mengirim SMS palsu berisi link situs phishing berumur 4 jam yang meminta "OTP pembatalan". Vaksincom bongkar modus & jejaknya sejak April 2025.
Ilustrasi kartu kredit dan kode QRIS untuk artikel kartu kredit dibobol lewat DANA QR tanpa OTP
By Alfons Tanujaya • September 22, 2026
Transaksi "DANA QR" misterius muncul di tagihan kartu kredit, sebagian tanpa OTP. Vaksincom mengurai modusnya, dugaan sumber kebocoran, dan langkah korban.
Halaman RansomHouse yang memuat Pertamina sebagai korban kebocoran data unit kilang
By Alfons Tanujaya • September 20, 2026
RansomHouse membocorkan lebih dari 6 GB data unit kilang Pertamina dari setidaknya 9 divisi. Data pensiunan, karyawan, dan vendor ikut terekspos. Analisa Vaksincom.
Ekstensi Chrome CRM WhatsApp yang membajak sesi WhatsApp Web untuk mengirim spam
By Alfons Tanujaya • August 13, 2026
Pesan judol terkirim dari akun sendiri tapi tak muncul di HP? Pelakunya ekstensi Chrome "CRM WhatsApp" yang membajak sesi WhatsApp Web. Ini cara mengatasinya.
Artikel Lainnya