Salah Fokus Broadcast Jambret Online

Alfons Tanujaya • July 4, 2018

Broadcast salah fokus jambret Cempaka Putih

JAKARTA : Jambret Ada Koruptor Ada Rampokpun Tentu Ada, ada plesetan singkatan dari nama kota tercinta yang menjadi ibukota Indonesia ini.

Maraknya jambret di Jakarta memang cukup mengkhawatirkan dimana selain terjadi penjambretan HP di Kota Tua terhadap pesepeda, lalu diikuti oleh aksi jambret di Cempaka Putih. Apalagi kasus jambret di Cempaka Putih yang menimbulkan korban jiwa menimbulkan keprihatinan seorang netter yang “berbaik hati” mengeluarkan himbauan diikuti oleh video kejadian penjambretan yang kontan langsung memviral dan disebarkan. Namun ada beberapa kesalahan yang cukup mengganggu dan bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua sebelum ikut memviralkan suatu broadcast. Lihat broadcast dan gambar 1 di bawah ini.

<<<awal broadcast>>>

*HIMBAUAN*

Himbauan buat semua penumpang Roda dua/ ojek on line harus berhati2 & waspada 🙏🙏 Kemarin terjadi lg jambret d kemayoran d jalan layang penumpang maen hp d jalananan sehingga mengundang jmbrt terjdi lah aksi jambret menjambret sehingga driver ojek online dan penumpang terjatuh d jalan layang kemyaroan driver ojol selamet, penumpang meninggal di rs mitra kemayoran akibat terbentur kepala nya d trotoar.Tolong himbau untuk shabat2 saya yg temen nya sodara2 nya klo naek ojek online jngan maen hp dan tas taro d tengah jngan d samping dan d belakang bahaya klo d tarik jambret. 🙏🙏🙏

SEKALI LAGI..

Jgn main HP / bertelepon HP di atas motor

Taruh tas

Jgn di samping / belakang badan

Tetapi taruh tas

Harus di depan badan

Sebarkan !!!

<<<akhir broadcast>>>


Broadcast kejadian jambret di Cempaka Putih yang Salah Fokus
Broadcast video FB kejadian jambret di Cempaka Putih yang Salah Fokus

Jika di teliti, ada beberapa kesalahan fakta yang cukup mengganggu dan menjadi ciri khas broadcast berita dan perlu diluruskan sebagai berikut :


  • Lokasi penjambretan.
    Lokasi penjambretan dalam broadcast dikatakan di Kemayoran Jalan Layang alias Jalan Layang Kemayoran. Padahal kejadian penjambretan terjadi di Cempaka Putih.
  • Kepala terbentur trotoar.
    Jika diteliti video yang beredar, kelihatannya kepala korban buka terbentur trotoar tetapi terbentur aspal jalan.
  • Penumpang maen HP.
    Menurut broadcast, kembali maen HP dijadikan sebagai kambing hitam kasus jambret ini. Namun dalam video ini sama sekali tidak terlihat fakta korban jambret sedang “maen HP” melainkan tasnya yang berusaha dijambret dan korban terjatuh dari boncengan motor yang sedang berjalan kencang.

Fakta yang tidak dibahas

Satu hal yang perlu diperhatikan pembuat broadcast dan penyebar broadcast sebelum melakukan broadcast adalah kecenderungan generalisasi, dimana mudah sekali menudingkan tangan pada “maen HP” sebagai penyebab terjadinya jambret dan celakanya karena sudah menjadi label umum bahwa kalau “maen HP” menjadi biang keladi banyak kejadian kejahatan jambret, maka penerima dan penyebar broadcast dengan mudahnya langsung percaya dan ikut2an menyebarkan broadcast tersebut tanpa berusaha kritis memeriksa terlebih dahulu dengan teliti video yang disebarkan dan melihat apakah sebenarnya hal tersebut sesuai dengan fakta atau tidak.

Mungkin kita perlu belajar mencerna setiap broadcast yang kita terima dan jangan terpengaruh ephoria untuk cepat2 menyebarkan informasi.

Fakta Tambahan yang penting

Jika penerima broadcast meneliti dan menganalisa video yang disebarkan, ada satu hal yang perlu menjadi pelajaran bagi pengemudi khususnya sepeda motor dan malah sama sekali tidak disampaikan pada broadcast tersebut. Padahal hal tersebut bisa saja menyelamatkan nyawa pengemudi motor. Fakta tersebut adalah helm motor yang terlepas dari pembonceng dan kemungkinan besar bisa menyelamatkan nyawa jika terpasang dan terkunci dengan baik. Harusnya broadcast tersebut lebih memfokuskan pada pengamanan yang baik sebelum berkendara seperti menggunakan helm sesuai standar SNI dan memastikan terkunci dengan baik dan mendapatkan bunyi “klik”.

Semoga saja kejadian penjambretan di atas bisa menjadi perhatian pihak berwenang untuk melakukan penindakan yang tegas dan menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih berhati-hati. Vaksincom mengucapkan belasungkawa untuk pihak korban dan semoga pelakunya segera tertangkap.

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

Banner Hari Patch Sedunia: celah PHP2Shell CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 pada PHP, daftar vers
By Alfons Tanujaya • October 23, 2026
PHP2Shell, dua celah kritis skor 9,2 di inti PHP, membuat server bisa diambil alih tanpa login. Cek versi PHP yang rentan, versi aman, dan alasan server di-takedown.
Kunci CA eMudhra bocor: Edge menolak sertifikat situs uji dengan peringatan NET::ERR_CERT_REVOKED
By Alfons Tanujaya • October 22, 2026
Delapan kunci privat CA eMudhra bocor dan bisa dihitung ulang siapa saja. Situs bank palsu bisa tampil dengan gembok. Ini risikonya dan yang harus Anda lakukan.
Situs BNI palsu berumur 4 jam meminta OTP pembatalan, jejak penipunya sejak April 2025
By Alfons Tanujaya • October 19, 2026
Penipu mengaku CS BNI mengirim SMS palsu berisi link situs phishing berumur 4 jam yang meminta "OTP pembatalan". Vaksincom bongkar modus & jejaknya sejak April 2025.
Ilustrasi kartu kredit dan kode QRIS untuk artikel kartu kredit dibobol lewat DANA QR tanpa OTP
By Alfons Tanujaya • September 22, 2026
Transaksi "DANA QR" misterius muncul di tagihan kartu kredit, sebagian tanpa OTP. Vaksincom mengurai modusnya, dugaan sumber kebocoran, dan langkah korban.
Halaman RansomHouse yang memuat Pertamina sebagai korban kebocoran data unit kilang
By Alfons Tanujaya • September 20, 2026
RansomHouse membocorkan lebih dari 6 GB data unit kilang Pertamina dari setidaknya 9 divisi. Data pensiunan, karyawan, dan vendor ikut terekspos. Analisa Vaksincom.
Ekstensi Chrome CRM WhatsApp yang membajak sesi WhatsApp Web untuk mengirim spam
By Alfons Tanujaya • August 13, 2026
Pesan judol terkirim dari akun sendiri tapi tak muncul di HP? Pelakunya ekstensi Chrome "CRM WhatsApp" yang membajak sesi WhatsApp Web. Ini cara mengatasinya.
Artikel Lainnya