Scam Whatsapp mengancam TKI

Alfons Tanujaya • September 26, 2018

TKI di luar negeri jadi korban Scam Whatsapp

Mendengar kata blokir mungkin mayoritas pengguna internet merasa alergi karena merasa ada kekangan untuk berekspresi atau mengakses konten yang diinginkannya. Namun dalam kasus penipuan Whatsapp ternyata blokir terbukti ampuh untuk melindungi calon korban yang notabene masyarakat Indonesia. Setiap kali situs palsu Whatsapp Indonesia dibuat dan dilaporkan oleh, maka otomatis situs tersebut tidak akan bisa diakses dan mendapatkan tampilan seperti di bawah ini. (lihat gambar 1)

Mayoritas situs penipuan Whatsapp diblokir oleh Kominfo dan sulit menjalankan aksinya menipu masyarakat Indonesia

Bagi pengakses di luar Indonesia, maka tampilan situs yang sebenarnya akan terlihat seperti gambar 2 dan 3 di bawah ini :

Situs Blogspot penipuan Whatsapp yang masih aktif sampai akhir September 2018
Situs penipuan Whatsapp memberikan tampilan yang meyakinkan

Keunikan dari penipuan ini adalah korbannya harus memasukkan kode yang dikirimkan melalui SMS untuk mengakses halaman penipuan yang telah dipersiapkan seperti pada gambar 3 di atas. Proses yang mirip dengan otentikasi Kartu Kredit / Internet Banking ini kontan menjadi gimik yang membuat banyak korbannya percaya bahwa ia memenangkan undian dan menghubungi nomor yang telah dipersiapkan pada situs penipuan. (lihat gambar 4 dan 5)

Korban yang memasukkan PIN yang diberikan melalui SMS dikelabui untuk percaya bahwa mereka memenangkan undian dan menghubungi nomor telepon penipu yang telah dipersiapkan.
Situs penipuan penuh dengan berbagai mcam dokumen pendukung palsu seperti eKTP, pencatutan foto pejabat polisi dan surat keterangan kepolisian palsu

TKI korban potensial

Jika mayoritas masyarakat Indonesia di dalam negeri bisa terlindungi dari aksi penipuan ini, rupanya tidak dengan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri. Hal ini terjadi karena situs penipuan yang dibuat di blogspot tersebut tidak diblokir dan tetap bisa diakses. Salah satu korban yang menjadi incaran para penipu ini adalah pahlawan devisa yang berjuang membanting tulang di negeri seberang, TKI. TKI dalam hal ini menjadi incaran pada penipu karena umumnya latar belakang pendidikan dan pengetahuan IT yang relatif rendah. (lihat gambar 6)

TKI menjadi target sasaran penipuan

Cukup miris melihat bahwa TKI yang bekerja guna mendapatkan penghasilan yang tidak terlalu tinggi dibandingkan profesi lain di luar negeri ini malahan menjadi sasaran penipuan. Melihat bahwa penipuan ini termasuk targeted attack, dimana pemicu dari penipuan ini adalah SMS yang dikirimkan ke calon korbannya maka seharusnya penyedia platform SMS yang digunakan untuk penyebaran penipuan ini bisa melakukan sesuatu untuk membatasi aksi penipuan. (lihat gambar 7)

Penipuan ini diawali dengan pengiriman SMS yang berisi alamat situs penipu dan Kode verifikasi akses situs penipu

Seperti yang telah di bahas di artikel Vaksincom, Broadcast SMS penipuan hadiah Whatsapp https://www.vaksin.com/broadcast-sms-penipuan-hadiah-whatsapp ini diawali dengan pengiriman SMS ke calon korbannya lengkap dengan alamat situs dan kode verifikasi, mirip dengan cara verifikasi kartu kredit dan internet banking. Situs untuk aktivitas penipuan ini juga mayoritas menggunakan situs gratisan Blogspot yang diperpendek dan disarukan dengan layanan pemendek situs / URL shortener.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana penipu bisa mendapatkan nomor HP TKI yang bersangkutan dan bagaimana langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi lagi.

Mengapa SMS ?

Sebenarnya menjadi hal yang ironis dan tidak logis adalah penipuan hadiah dari Whatsapp malah tidak menggunakan platform Whatsapp untuk menyebarkan informasi pemenang, melainkan memilih menggunakan SMS. Padahal seperti kita ketahui platform Whatsapp sifatnya gratis dan dengan mudah bisa diakses dan digunakan untuk menyebarkan informasi ini. Dan lebih logis lagi kan kalau informasi menang undian Whatsapp disebarkan melalui Whatsapp. Kok penipu malah memilih mengirimkannya melalui SMS ?

Salah satu sebabnya adalah karena dibandingkan Whatsapp, perlindungan dan kepedulian operator terhadap pengguna SMS sangat rendah.

Sebelum Whatsapp populer, SMS menjadi sarana komunikasi andalan. Sampai saat ini SMS masih banyak digunakan oleh lembaga keuangan mengamankan transaksinya untuk mengirimkan Otentikasi Dua Faktor TFA (Two Factor Authentication) dan OTP (One Time Password) karena luasnya jangkauan dan mudahnya penggunaannya. Namun tingginya basis pengguna SMS ini menjadikan banyak pihak yang juga ingin menyalahgunakan SMS untuk keuntungan pribadinya seperti mengirimkan SMS SPAM dan SMS penipuan. Celakanya, pemilik platform SMS (provider Telko yang bersangkutan) tampaknya kurang menyadari atau kurang peduli dengan hal ini dan menganggap bahwa mereka hanya penyedia platform dan ibarat perusahaan percetakan mereka mengatakan “Isi Diluar Tanggung Jawab Percetakan”. Atau mungkin juga karena khawatir jika melakukan penyaringan terhadap SMS yang merugikan pengguna maka pendapatannya dari pengiriman SMS akan mengalami penurunan. Karena itu kanal SMS saat ini tidak beda dengan email yang dipenuhi dengan SPAM dan lebih banyak mengandung informasi yang mengganggu dibandingkan yang bermanfaat.

Sebaliknya, pengguna Whatsapp makin hari makin bertambah dan pemilik platform melalui administratornya bekerjakeras mengamankan platformnya dari aksi kejahatan yang merugikan penggunanya. Pengirim pesan SPAM akan langsung bisa di blokir oleh penerima pesan dan penggunanya tidak difasilitasi melakukan broadcast spam seperti yang bisa dilakukan melalui SMS broadcast. Jika provider telekomunikasi ingin bertahan dan mendapatkan penghasilan dalam jangka panjang, ada baiknya mempertimbangkan untuk mengutamakan kepentingan dan keamanan pengguna layanannya daripada keuntungan jangka pendek yang makin hari makin tergerus oleh layanan over the top yang tidak henti memberikan nilai tambah dan memanjakan penggunanya.

Pihak terkait seperti pihak berwenang dan departemen terkait juga perlu proaktif untuk menekan aksi kejahatan ini. Secara teknis sebenarnya tidak sulit bari pihak yang berwajib untuk menangkap pelaku penipuan Whatsapp, namun hukuman ringan yang dijatuhkan pengadilan secara tidak langsung juga turut berperan membuat pelaku yang tertangkap tidak kapok dan kembali menjalankan aksinya setiap kali tertangkap. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah dengan memblokir situs pelaku penipuan ini harus diakui berhasil menekan korban dari dalam negeri. Karena itu perlu dicari metode yang lebih efektif lagi seperti menuntut pemilik platform seperti Blogspot untuk lebih bertanggung jawab seperti Whatsapp yang mengamati konten dengan ketat atau memberikan fitur seperti tombol rating [SPAM] atau [PENIPUAN] yang bisa di klik oleh pengunjung situs dan administrator situs melakukan tindakan yang langsung dan cepat jika platformnya digunakan untuk aktivitas kriminal.

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

Banner Hari Patch Sedunia: celah PHP2Shell CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 pada PHP, daftar vers
By Alfons Tanujaya • October 23, 2026
PHP2Shell, dua celah kritis skor 9,2 di inti PHP, membuat server bisa diambil alih tanpa login. Cek versi PHP yang rentan, versi aman, dan alasan server di-takedown.
Kunci CA eMudhra bocor: Edge menolak sertifikat situs uji dengan peringatan NET::ERR_CERT_REVOKED
By Alfons Tanujaya • October 22, 2026
Delapan kunci privat CA eMudhra bocor dan bisa dihitung ulang siapa saja. Situs bank palsu bisa tampil dengan gembok. Ini risikonya dan yang harus Anda lakukan.
Situs BNI palsu berumur 4 jam meminta OTP pembatalan, jejak penipunya sejak April 2025
By Alfons Tanujaya • October 19, 2026
Penipu mengaku CS BNI mengirim SMS palsu berisi link situs phishing berumur 4 jam yang meminta "OTP pembatalan". Vaksincom bongkar modus & jejaknya sejak April 2025.
Ilustrasi kartu kredit dan kode QRIS untuk artikel kartu kredit dibobol lewat DANA QR tanpa OTP
By Alfons Tanujaya • September 22, 2026
Transaksi "DANA QR" misterius muncul di tagihan kartu kredit, sebagian tanpa OTP. Vaksincom mengurai modusnya, dugaan sumber kebocoran, dan langkah korban.
Halaman RansomHouse yang memuat Pertamina sebagai korban kebocoran data unit kilang
By Alfons Tanujaya • September 20, 2026
RansomHouse membocorkan lebih dari 6 GB data unit kilang Pertamina dari setidaknya 9 divisi. Data pensiunan, karyawan, dan vendor ikut terekspos. Analisa Vaksincom.
Ekstensi Chrome CRM WhatsApp yang membajak sesi WhatsApp Web untuk mengirim spam
By Alfons Tanujaya • August 13, 2026
Pesan judol terkirim dari akun sendiri tapi tak muncul di HP? Pelakunya ekstensi Chrome "CRM WhatsApp" yang membajak sesi WhatsApp Web. Ini cara mengatasinya.
Artikel Lainnya