Komputasi Awan dan NGAV

Alfons Tanujaya • July 30, 2018

Revolusi Digital Melanda Industri Antivirus (tulisan 1/2 )

NGAV hanya membutuhkan memory kurang dari 25 % memory yang digunakan AV tradisional yang paling ringan sekalipun (Test Passmark Software April 2017)

Pengantar :
Revolusi digital tidak hanya melanda dan mengubah lanskap bisnis konvensional seperti bidang transportasi dengan Uber, Gojek dan Grab. Industri pariwisata terdisrupsi oleh Agoda, Traveloka dan AirBnB serta perusahaan Fintech seperti SocietyOne dan Zola sukses mendisrupsi industri perbankan. Industri antivirus komputer rupanya juga mendapatkan giliran revolusi digital dimana saat ini telah berkembang pendekatan baru yang mendisrupsi antivirus tradisional.
Salah satu persyaratan disrupsi adalah pemberian nilai tambah (value added) dan efisiensi dan semuanya berusaha dipenuhi oleh antivirus generasi baru atau lebih dikenal dengan nama NGAV Next Generation Antivirus. Adapun nilai tambah yang diberikan oleh NGAV terhadap antivirus tradisional adalah :

  1. Instalasi antivirus membutuhkan waktu kurang dari 1 menit per komputer / server.
  2. Mudah di implementasikan pada klien yang tersebar pada cabang yang tersebar secara geografis dan terhubung pada jaringan dengan kuota bandwidth yang terbatas.
  3. Mudah di implementasikan pada jaringan rumit dan sangat tersegmentasi. Konsol manajemen antivirus tersedia semudah membuka akun Dropbox.
  4. Ukuran instalasi file yang sangat kecil 3 MB dibandingkan dengan antivirus tradisional yang mencapai lebih dari 100 MB dan mengakibatkan sistem komputer yang diproteksi menjadi lambat.
  5. Proses scanning satu harddrive baru full yang membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
  6. Tidak membutuhkan server on premise yang memberikan penghematan tidak ada investasi pembelian dan perawatan perangkat keras server antivirus dan sistem operasi yang harus dijaga.
  7. Kebutuhan sistem (footprint) yang rendah dan konsumsi memori terendah dibandingkan semua antivirus tradisional. Pengguna NGAV akan mengalami peningkatan kecepatan yang signifikan dibandingkan menggunakan antivirus tradisional karena sumber daya komputer yang selama terpakai untuk antivirus tradisional terbebaskan dan dapat digunakan untuk aktivitas produktif perusahaan.

  Ada dua kesalahan persepsi yang paling sering muncul di kalangan pengguna antivirus dan sering ditanyakan langsung kepada penulis. Persepsi pertama adalah pihak yang berada di belakang pembuatan virus dimana tudingan langsung biasanya ditujukan kepada pembuat antivirus. Hal ini terjadi karena anggapan bahwa pembuat antivirus yang mendapatkan keuntungan dari menyebarnya virus dimana pengguna komputer harus mengeluarkan uang untuk membeli antivirus guna mencegah terinfeksi virus. Agak sulit juga menjawab pertanyaan pertama karena apapun jawabannya, biasanya akan ditimpali dengan kalau maling ngaku penjara penuh :). Padahal sepanjang sejarah tertangkapnya pembuat virus dari virus AnnaKournikova, Netsky, Melissa, Rontrokbro dan ransomware Cryptolocker, tidak ada satupun pembuat virus yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan antivirus. Bahkan dalam banyak kasus perusahaan antivirus juga sering mendapatkan serangan dari pembuat virus dalam bentuk DDOS atau serangan langsung melumpuhkan program antivirusnya.

Persepsi kedua yang mungkin tidak disadari oleh pengguna adalah program antivirus itu sangat ampuh dan harus bisa melindungi dari semua virus (malware), kalau tidak bisa artinya antivirusnya jelek. Padahal jika suatu sistem mengandung celah keamanan (vulnerability) dan tidak ditambal (patch), sekalipun dilindungi oleh program antivirus yang mahal dan terupdate sekalipun, malware tetap akan bisa melewati perlindungan antivirus tersebut dan menginfeksi sistem komputer. Lebih parah lagi, satu hal yang banyak tidak disadari oleh pengguna antivirus, sebenarnya cara kerja antivirus tradisional sampai saat ini masih mengandalkan pada definisi antivirus. Artinya produsen antivirus mengenali mayoritas malware berdasarkan sampel yang telah di dapatkannya, jadi jika ada malware baru yang belum terdeteksi atau belum pernah ditemukan sebelumnya mencoba menginfeksi komputer, maka program antivirus kemungkinan besar tidak akan mampu mendeteksi malware tersebut. Hanya setelah ada satu pengguna yang terinfeksi dan sampel tersebut didapatkan oleh produsen antivirus, maka definisi malware tersebut akan segera diteruskan ke server update antivirus dan produsen antivirus lain yang bekerjasama.

Komputasi Awan

Dalam beberapa tahun belakangan ini penetrasi penggunaan komputasi awan meningkat dengan sangat cepat. Didukung oleh makin cepat dan meratanya akses internet sehingga kehandalan data yang disimpan di awan menjadi tidak kalah dengan server fisik yang harus dikelola sendiri. Salah satu faktor pendukung lain adalah pertimbangan finansial dimana dibandingkan dengan mengelola server sendiri dimana harus membeli perangkat keras dan mengadakan layanan tersebut sendiri yang akan menjadi Capex - Capital Expenditure yang ternyata secara finansial bagi kebanyakan perusahaan besar kurang menguntungkan dibandingkan menyewa layanan komputasi awan yang dapat dikategorikan sebagai Opex - Operational Expenditure. Mirip seperti membandingkan antara membeli mobil langsung yang menjadi aset perusahaan lalu menjadi beban penyusutan dibandingkan dengan menyewa dari leasing sehingga menjadi biaya perusahaan yang secara tidak langsung akan memotong laba dan mengurangi beban pajak secara legal.

Perusahaan antivirus juga tidak mau kalah dan berlomba-lomba mengimplementasikan cloud dalam layanannya dimana server manajemen antivirus yang selama ini membutuhkan minimal satu perangkat keras dan sistem operasi yang tersedia secara fisik dan terinstal di perusahaan (on premise) mulai berpindah ke cloud sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan Capex untuk hardware, OS dan maintenance server. Selain itu pengelolaan antivirus juga lebih mudah karena memiliki segala kelebihan cloud. Dibandingkan dengan server on premise, pengelolaan server di cloud selain lebih murah juga pasti lebih cepat karena koneksi server cloud adalah langsung antara komputer pengakses dengan server cloud dibandingkan dengan menjangkau server on premise yang harus melalui lebih banyak koneksi perantara. Namun apakah cukup dengan memindahkan server on premise ke cloud sudah menjadikan antivirus tradisional sebagai NGAV atau Next Generation Antivirus ?

Kita bisa melihat apa yang terjadi pada industri musik dimana lagu-lagu yang semula ada di kaset dan CD dimana harus ada fisik lagu yang dibeli yang tersimpan pada kaset atau CD dan untuk memainkan lagu juga membutuhkan perangkat khusus pemutar kaset / CD. Revolusi yang terjadi adalah digitalisasi pada rekaman lagu dimana untuk pembelian lagu dapat dilakukan langsung dari aplikasi pemutar lagu seperti iTunes dan Spotify tanpa perlu beranjak dari rumah anda. Untuk memainkan lagu juga sekarang tidak memerlukan perangkat khusus dimana hampir semua komputer dan ponsel pintar dapat memainkan lagu yang dibeli sehingga hal ini sangat praktis dan ekonomis. Namun ada satu titik krusial yang menentukan keberhasilan penjualan musik digital melalui awan ini dimana lagu di CD yang sebenarnya sudah dalam bentuk digital tidak serta merta dapat langsung dijual secara digital. Hambatannya adalah ukuran lagu dalam CD yang besar sehingga akan membebani kuota bandwidth dan ruang penyimpanan perangkat pintar. Karena itulah muncul teknologi kompresi yang memungkinkan lagu digital yang awalnya berukuran 30 – 50 MB dan kalau 1 album berisi 10 – 12 lagu maka akan berukuran sampai 0.5 GB dikompresi sedemikan rupa sehingga ukurannya hanya menjadi 10 % dari ukuran digital di CD dengan kualitas suara yang makin hari makin mendekati suara lagu di CD.

Demikian pula dengan program antivirus. Kalau hanya memindahkan server antivirus dari on premise ke cloud lalu mengklaim sebagai NGAV, ibaratnya memindahkan lagu dari CD ke iTunes atau Spotify tanpa melakukan kompresi sudah terjadi revolusi dalam industri musik. Harus ada penyesuaian lebih jauh sehingga perusahaan antivirus tradisional mampu memanfaatkan potensi cloud dan teknologi terbaru yang ada dengan optimal.

bersambung....

Salam,
Alfons Tanujaya

PT. Vaksincom
Jl. R.P. Soeroso 7AA
Cikini
Jakarta 10330
Ph : 021 3190 3800

Vaksincom Security Blog

By Alfons Tanujaya March 5, 2026
Banyak analis global menyebut data sebagai “the new oil”. Bukan tanpa alasan. Di era digital, data telah menjadi komoditas ekonomi paling strategis di muka bumi. Namun sering muncul pertanyaan sederhana: jika data begitu berharga, mengapa kita yang memiliki banyak data di komputer atau ponsel tidak otomatis menjadi kaya? Jawabannya sederhana. Memiliki data tidak sama dengan mampu mengolahnya. Ini ibarat seseorang memiliki tanah yang mengandung minyak bumi. Ia tidak serta-merta menjadi kaya raya. Minyak itu harus dieksplorasi, dibor, dimurnikan, lalu didistribusikan sebelum memiliki nilai ekonomi. Data pun demikian. Di tangan pihak yang mampu mengolahnya dengan teknologi dan analitik yang tepat, data berubah menjadi nilai ekonomi luar biasa. Perusahaan teknologi global seperti Meta, Microsoft, Alphabet Inc., Amazon, TikTok, hingga platform digital nasional seperti Tokopedia dan Gojek memanfaatkan data untuk menciptakan layanan yang semakin presisi dan bernilai tinggi. Dalam bentuk yang lebih kompleks, kumpulan data dalam skala besar (big data) yang diolah dengan kecerdasan buatan telah menjadi fondasi perkembangan Artificial Intelligence (AI). Data kini bukan hanya mendukung layanan digital, tetapi menjadi “tambang emas” bagi inovasi generasi berikutnya. Namun, di tangan yang tidak memahami cara mengelola dan melindunginya, data justru bisa menjadi beban — bahkan menjadi sumber bencana. Pengelolaan Data: Antara Berkah dan Amanah Karena data sangat bernilai, ia juga sangat rentan disalahgunakan. Data kependudukan, data pelanggan, rekam medis, data transaksi keuangan — semuanya memiliki konsekuensi serius jika bocor. Pengelolaan data bukan lagi sekadar praktik teknis, tetapi kewajiban hukum. Sejak disahkannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, setiap pengendali dan pemroses data di Indonesia memiliki tanggung jawab yang jelas, termasuk kewajiban menjaga keamanan dan kerahasiaan data. Kunci pengelolaan data sebenarnya sederhana: disiplin menjalankan standar . Standar internasional seperti ISO/IEC 27001 memberikan kerangka kerja sistem manajemen keamanan informasi. Di sektor kesehatan terdapat HIPAA, dan di sektor pembayaran ada PCI DSS. Namun penting dipahami: standar bukanlah jaminan kebal bocor. Sertifikasi bukan tameng sakti. Yang melindungi data bukanlah kertas sertifikat, melainkan praktik pengendalian risiko yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan. Mengelola data ibarat pernikahan. Sekali Anda berkomitmen mengelola data, Anda terikat untuk menjaganya selama data itu masih ada dan digunakan. Ini bukan komitmen sesaat. Ia juga seperti diet. Semua orang tahu teorinya, tetapi konsistensi jangka panjanglah yang menentukan hasil. Banyak organisasi awalnya disiplin, namun seiring waktu standar dilonggarkan, pengawasan melemah, dan kebiasaan lama kembali muncul. Di titik inilah risiko kebocoran meningkat. Perbedaan besar terletak pada cara memandang data: apakah sebagai “berkah” untuk dimonetisasi sebesar-besarnya, atau sebagai “amanah” yang harus dijaga sebaik mungkin? Data Bocor dan Ban Bocor Jika ban kendaraan bocor, kita bisa menambalnya dan masalah selesai. Tetapi data tidak demikian. Ada prinsip yang sering disebut dalam dunia siber: Once on the internet, always on the internet. Data mungkin bisa dihapus dari sumber aslinya, tetapi jika sudah disalin dan didistribusikan pihak lain, kita tidak lagi memiliki kendali penuh atasnya. Sekali data pribadi bocor dan beredar, dampaknya bisa bertahun-tahun. Data kependudukan yang tersebar dapat digunakan untuk: registrasi kartu prabayar secara ilegal pembukaan rekening penampung dana kejahatan rekayasa sosial untuk mengambil alih akun digital penipuan berbasis identitas Inilah sebabnya model autentikasi global mulai bergeser. Sistem yang dulu hanya mengandalkan “apa yang Anda tahu” (misalnya NIK, tanggal lahir) kini beralih ke kombinasi “apa yang Anda miliki” (device, OTP) dan “siapa Anda” (biometrik). Kebocoran data mengubah paradigma keamanan secara fundamental. Tanggung Jawab Hukum dan Etika Di era regulasi modern, kegagalan melindungi data bukan sekadar persoalan reputasi. Di bawah UU Perlindungan Data Pribadi, pengendali data dapat dikenakan sanksi administratif, denda, hingga pidana jika terbukti lalai. Namun konsekuensi terberat justru ditanggung oleh pemilik data. Pengelola data mungkin hanya mengalami reputasi yang tercoreng. Pemilik data bisa kehilangan tabungan, identitas, bahkan masa depan finansialnya. Karena itu, pengelolaan data bukan hanya kewajiban teknis, tetapi juga tanggung jawab moral. Melindungi Aset Digital Masyarakat perlu memahami bahwa data digital — kredensial akun, email, akses mobile banking — adalah aset ekonomi. Beberapa langkah dasar yang perlu dilakukan: Gunakan autentikasi dua faktor. Jangan membagikan OTP kepada siapa pun. Waspadai rekayasa sosial yang mengatasnamakan aparat, petugas pajak, atau bank. Gunakan kata sandi unik untuk setiap layanan. Segera ganti kredensial jika ada indikasi kebocoran. Bagi pengelola data, komitmen harus lebih tinggi: Terapkan kontrol akses berbasis kebutuhan. Enkripsi data sensitif. Audit keamanan secara berkala. Lakukan pelatihan kesadaran keamanan bagi karyawan. Siapkan rencana respons insiden. Dan yang paling penting: pahami bahwa keamanan bukan kondisi statis. Ancaman terus berkembang. Hari ini aman bukan berarti besok tetap aman. Penutup Di era digital, data bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah amanah. Nilainya bisa menjadi emas digital yang menciptakan inovasi dan kemakmuran. Tetapi jika lalai dikelola, ia berubah menjadi sumber kerugian yang luas dan berkepanjangan. Pertanyaannya bukan lagi apakah data itu berharga. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup disiplin dan bertanggung jawab untuk menjaganya? Karena dalam dunia digital, kepercayaan dibangun dari keamanan. Dan keamanan lahir dari komitmen yang tidak pernah berhenti.
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya July 21, 2025
Duet Maut Call Center Palsu dan trf VA bobol internet banking
By Alfons Tanujaya December 25, 2024
Bulan Desember tahun 2024 ditutup dengan pengumuman Ransomware Bashe yang pada pertengahan Desember mengklaim salah satu bank BUMN yang masuk dalam jajaran 5 besar mengalami kebocoran data dan memberikan waktu sampai 23 Desember 2024 untuk membayar uang tebusan 5 bitcoin atau sekitar Rp. 7,6 milyar rupiah atau data tersebut dijual ke pihak ketiga. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya November 25, 2024
Menyambut penutupan tahun 2024, Vaksincom kembali mengadakan event akhir tahun Evaluasi Malware 2024 dan Trend 2025. Namun berbeda dengan tahun sebelumnya, event ini diadakan dalam bentuk Seminar Outing seperti yang pernah diadakan Vaksincom di tahun 2008. Seminar Outing ini akan diadakan dua hari pada awal Desember 2024 di Pengalengan Bandung dan peserta seminar yang umumnya pegiat IT dan admin yang sehari-hari melakukan aktivitasnya dari belakang meja kini akan mendapatkan lingkungan yang berbeda dalam bentuk Outing mengarungi Jeram di Pengalengan Bandung. Selain evaluasi Malware 2024, peserta seminar juga akan mendapatkan informasi tambahan bagaimana mengamankan jaringan dan data yang dikelolanya dari ancaman Ransomware dimana Vaksincom akan meluncurkan VaksinSIEM (Security Information and Event Management) dimana termasuk ke dalamnya Vaksin Protect yang akan dapat mengembalikan data sekalipun berhasil dienkripsi oleh ransomware hanya dengan 1 kali klik tanpa tergantung pada Backup. Peserta baru yang belum menggunakan layanan Vaksincom akan mendapatkan produk andalan Vaksincom Webroot Endpoint Protection untuk melindungi 50 nodes komputer (Windows Workstation / Server dan Mac OS) yang akan dapat digunakan secara full untuk 90 hari. Bonus tambahan akan diberikan kepada seluruh peserta seminar berupa training pengamanan akun digital Call Paman Onetime (True Caller, Password Manager dan aktivasi One Time Password) dimana seluruh peserta seminar akan dibantu langsung oleh teknisi Vaksincom menginstal dan mengimplementasikan aplikasi True Caller, Password Manager dan Aktivasi Two Factor Authentication untuk semua akun penting anda seperti email (Gmail, Yahoo etc) tanpa tambahan biaya apapun alias Gratis. Adapun Seminar Outing tersebut akan diadakan dengan informasi detail sebagai berikut : Seminar Outing Vaksincom 2024 Tema : Evaluasi Malware Indonesia 2024 dan Trend Malware 2025 Waktu : 6 - 7 Desember 2024 Lokasi : Bandung (Rafting Pengalengan dan penginapan hotel Meize City Center Jl. Sumbawa - Bandung) Fasilitas yang disediakan : - Transportasi PP Jakarta - Bandung - Jakarta berangkat dari dari PT. Vaksincom Jl. R. P. Soeroso 7AA, Jakarta 10330 - Penginapan di Hotel Meize City Center sharing 1 kamar 2 orang. - Konsumsi selama event. - Rafting dan peralatan pengaman rafting serta instruktur yang berpengalaman. - Dokumentasi. - Wisata di Bandung. Biaya Seminar sudah termasuk GRATIS : - Sertifikat Seminar - Lisensi Webroot Endpoint Protection Business untuk 50 Nodes selama 90 hari untuk Windows workstation / server dan Mac OS. - VaksinSIEM untuk 1 (satu) nodes beserta Security Hardening dari Vaksincom selama 90 hari. - Aplikasi Password Manager Full Version automatic sync antara Android, iOS, Windows OS, Browser dan Mac OS. Biaya : - Customer Vaksincom Rp. 1.250.000,- (tidak termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Business 50 nodes) - Umum Rp. 1.950.000,- (termasuk lisensi Webroot Endpoint Protection Busienss 50 nodes) Pendaftaran : Hubungi email [email protected] atau Whatsapp 0897-8696-122 dgn ibu Ami I
By Alfons Tanujaya October 29, 2024
Security is a process, itu adalah mantra yang menjadi pegangan para praktisi sekuriti. Dan proses sekuriti adalah proses tidak berkesudahan. Ibaratnya anda bermain sepakbola, maka administrator sekuriti adalah penjaga gawang yang harus menjaga data yang dikelolanya setiap saat tanpa istirahat, 1 x 24 jam dari serangan striker peretas dari seluruh dunia. Apalagi jika anda mengelola data yang kritikal dan berharga seperti mobile banking yang di incar oleh banyak peretas didunia yang tidak kalah pintar dengan anda. Masalahnya adalah mereka bisa menyerang setiap saat dan anda harus siap berjibaku menjaga data berharga yang anda kelola. Kalau yang diserang adalah server aplikasi yang anda kelola, itu saja sudah membuat pusing kepala dan kita melihat pengelolaan server data yang amburadul mengakibatkan banyaknya kebocoran data di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dalam kasus pengelola mobile banking, skala serangannya justru lebih luas dimana ketika server dan database aplikasi sudah diamankan dengan baik dan sulit diserang, maka penyerang akan mengincar titik terlemah dalam pengamanan aplikasi .... end user alias pengguna aplikasi. Serangan terhadap end user mobile banking yang sangat efektif memanfaatkan rekayasa sosial untuk mendapatkan kepercayaan korbannya seperti mengirimkan APK pencuri SMS yang memalsukan diri sebagai APK kurir online, APK pajak, APK Undangan Pernikahan dan APK Surat Tilang yang intinya adalah mengelabui korbannya menjalankan aplikasi tersebut dan bertujuan mencuri SMS OTP yang akan digunakan oleh peretas untuk mengambil alih dan mengeksploitasi aset digital, baik akun mobile banking, Whatsapp, email atau akun lain sekalipun diproteksi dengan OTP SMS. Pada akhir tahun 2024 ini, aksi yang menggunakan APK pencuri SMS sudah menurun karena efektivitasnya menurun seiring meningkatnya kesadaran pengguna ponsel dan usaha pengamanan yang dilakukan oleh banyak pihak baik pihak bank, dari Google, pengamat sekuriti dan pemerintah yang tidak henti melakukan edukasi terhadap masyarakat atas ancaman ini. Namun sesuai mantra di atas, security is a process. Kini berkembang satu ancaman baru yang perlu diwaspadai dan sangat berpotensi mengancam pengguna aplikasi mobile banking. Dan celakanya, metode yang dipakai adalah mengeksploitasi fitur tambahan yang disediakan oleh Android untuk memudahkan pengguna dengan keterbatasan tertentu. Fitur Aksesibilitas atau Accessibility. Accessibility / Aksesibilitas Aksesibilitas adalah fitur Android untuk membantu pengguna disabilitas. Fitur seperti pembaca teks, subtitel atau tampilan kustom. Untuk mengaktifkan layanan ini di aplikasi membutuhkan akses "accessibility permission" atau "izin aksesibilitas" pada ponsel Android. Dan masalahnya izin ini memberikan hak akses penuh pada perangkat aplikasi. Hak akses penuh ini yang menjadi incaran kriminal siber yang memang selalu berusaha mencari cara untuk mengendalikan ponsel atau tablet. Ketika hak ini didapatkan, maka pengguna ponsel akan terperangkap dan perangkat ponselnya bisa diambilalih. (lihat gambar 1)
By Alfons Tanujaya June 26, 2024
Ransomware secara de facto menjadi malware yang paling ditakuti oleh pengguna komputer dan pengelola data saat ini. Dalam menjalankan aksinya, ransomware dapat menambahkan aksinya menjadi extortionware. Jika ransomware beraksi dengan mengenkripsi data dan sistem yang diserangnya, maka extortionware adalah ancaman menyebarkan data yang berhasil dicuri jika korbannya menolak membayar uang tebusan yang diminta. Serangan ransomware Brainchiper yang merupakan turunan Lockbit pada Pusat Data Nasional / PDN dibulan Juni 2024 melumpuhkan layanan pemerintah yang memanfaatkan sistem dan data yang dikelola di PDN. Salah satu layanan kritis yang terganggu adalah layanan imigrasi yang menjadi pintu gerbang Indonesia dan mencoreng muka Indonesia karena layanan keimigrasian yang mengakibatkan antrian panjang karena sistem imigrasi yang tadinya dilakukan secara elektronik harus dilakukan secara manual. Lalu institusi apa saja yang menjadi korban serangan ransomware di tahun 2024 ini ? Vaksincom akan mengadakan seminar 2 jam singkat tanggal 2 Juli 2024 mengangkat tema 10 ransomware ganas dan korbannya di Indonesia : Akibat dan mitigasinya. Korban Ransomware Sampai pertengahan tahun 2024, sudah ada 10 institusi besar yang menjadi korban ransomware, baik dari institusi swasta maupun pemerintahan dari berbagai industri seperti logistik, logistik makanan, shopping center, consumer finance, bank, finance services, IT Services, transportasi dan pialang saham. Parahnya lagi ada salah satu institusi keuangan Tbk yang sampai dua kali menjadi korban ransomware yang berbeda pada saat yang berbeda dimana pada Juli 2023 bank tersebut menjadi korban ransomware dengan total data yang berhasil dicuri dan dienkripsi sebanyak 450 GB oleh Ransomhouse (lihat gambar 1).
Artikel Lainnya